Jumat, 24 Agustus 2012

Biru nya Laut Patimban

Biru nya Laut Patimban
Oleh : Faniz Defo
    Hari itu Nadia tak habis pikir, mengapa karangan fiksi nya masih belum dimuat dibeberapa surat kabar, padahal berbagai kiat sudah ia lakukan sebagaimana hasil ilmu yang ia peroleh dari seminar dan berbagai macam pelatihan-pelatihan. Ternyata harapan terkadang tak sesuai dengan kenyataan. Tak kenal putus asa sebetulnya Nadia, tak kenal waktu, siang, sore, bahkan sampai larut malam sekalipun ketika mood Nadia menulis apa saja, entah itu karangan fiksi maupun non fiksi, ia ikuti pula pangsa pasar. Hasilnya nol alias nihil. Inilah nasib penulis pemula, tidak dihargai oleh redaktur karena kurang bonafide, namanya kurang populer. Apalagi menghadapi persaingan dengan berbagai penulis kondang yang sudah akrab ditengah-tengah masyarakat. 
    Haruskah aku mengemis, bathin Nadia bergejolak. Menjadi profesi seorang pengemis, wow bagi Nadia perbedaannya teramat  tipis, kaum berdasi pun dengan beragam profesi semua nya juga dikenal sebagai pengemis, intinya sama, meminta-minta tanpa jerih payah dan modalnya tidak dikembalikan. Lantas kepada siapa ia harus mengemis, mulai dari redaktur Mading di kampus, koran lokal, koran regional, sampai dengan koran nasional sempat ia datangi, namun hasilnya dibuang ke tong sampah.
    Dan sore itu  bathin Nadia curhat, kembali ia menumpahkan kekesalannya kepada birunya laut Patimban, sumpah serapahpun ia keluarkan, peduli setan mau dibilang orang gila kek, sinting kek, orang stress sekalipun yang penting ia ingin berteriak, biar puas menumpahkan kekesalannya, dikarenakan walaupun ia sudah makan semangkuk baso, rujak sepiring, bahkan sampai warung nasi padang kegemarannya, tetep saja. Tulisannya tidak dimuat. “huh kesal jadinya, hatinya terasa remuk”.
    Belum lagi ejekan dari teman-temannya, semua nya merendahkan mutu tulisannya, kampungan katanya, ketinggalan zaman, klasik, and seabrek ocehan pokok e bukannya menghibur malah memojokkan kemampuannya. Letih, letih, sekali rasanya."  السلا م عليكم " tiba-tiba ada cowok yang menyapa Nadia, Nadia terperanjat, segera ia bangun dari alam mimpi kekecewaannya. Dan terjadilah percakapan menarik,"وعليكم سلام" ujar Nadia, wow kece sekali Tuhan, cowo yang kau hadirkan menjelang magrib ini! thanks God! Engkau memang adil.
He is Very handsome, I like it. “what are you doing, here? And what is your name? are you ok?” wow use English man, that is no problem, because I can speak English, but a little, “oh, I am fine” he he he Nadia bo’ong, abis ia malu, dikira gak ada yang merhatiin, gak tau nya Tuhan telah mengutus buat hatiku cowo black sweat tinggi nya ya sekira 150 meter, rambut gondrong mirip  Armand Maulana ntu tuh vokalis grup band Gigi.
 “Trus kenapa kamu, teriak-teriak kayak wong linglung, tuh lihat burung-burung juga kepakkan sayapnya tanda ketakutan”.
1
Ce ile nih cowo perhatian banget. Ku jawab sambil kututup mukaku dengan tas, muaaaalluuuuu rasanya.“ehm gak kok, gak linglung, lagi latihan drama tau! Kan bentar lagi mau pentas agustusan sekalian lebaran” lho kok aku jagi bo’ong lagi sich ma cowo punya kumis tipis, and bawa kodak.
 Kodak? Wah moto siapa tuch? Jangan, jangan, aku di photo nich ma dia, akh so ge-er segala. “tapi masa sampai teriak, are you sick man, are you crazy grils, dasar sinting siah. Nu gelo, gelo, gelo, gelooooo, kalo gak pecaya ku punya rekamannya, nih kalo pengen liat”. Lantas kamera digital  cowo imut-imut itu dikeluarkan,  اشتغفرالله العظيم semuanya terekam o wa la jelek banget. Ku tinju si badan tegap itu berkali-kali, dug dug dug, bukannya sakit! Malah ketawa. Ngakak hua ha ha ha, “sini ku gak ridlo, buang semua, kalo gak kutuntut kau kepengadilan. Karena bisa dimasukkan lewat Mail, face book, twiter, blogger or newspaper, magazine and tabloid, cepet sini! Jangan lariiiii!” si cowo hidung mancung, gigi putih, mata biru, alis tebal dan pipi ranum itu malah sengaja pengen dikejar sambil berkeliling. Saking jengkelnya kutubruk dia dan kami pun bergulingan.
 Ufs masya Allah, aku menindihnya, tapi ku berhasil merebut kamera digitalnya, gantian, aku yang dikejar, karena kamera digitalnya kubawa lari, “kamera digitalku! Hei mo dibawa kemana? Awas jangan dibawa kabur, kulaporkan kau sebagai pencuri, ku teriak nich, maling, ayo kembalikan, gue makin keras nih teriakannya. Maa.......”ok, ok I loose, but please my acting, delete ok, it is not funny. I hope you understand, I have a problem,a big problem”.Aku memelas, oh Tuhan please jadikan ia my honey ku akan setia mendampinginya kayak Romeo and Juliet, sehidup semati. Please Tuhan. Bathinku merengek. “yuk kita sholat magrib berjama’ah di Musholla dulu, nanti kita makan ikan etong bakar, kesukaanku, sambil mendengar nyanyian your problem”. Syik asyik ditraktir ma cowo ganteng Nadia tersenyum simpul.
 Kenalkan my name is Tio Pasopati, My nick name is Tio, I am from Pusakajaya, My profesi is Jurnalis, I work in kompas news paper, asli reang wong jowo, my language is dermayuan jawane jawa reang, dikit dikit ngerti basa sunda karo basa betawi, and what is your name? Where do you come from, why are you have a big problem?”mulutnya terus nyerocos, ku stop! “udah sholat dulu” dasar bawel pikirku.
اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُلاَاِلهَ اِلَّااللهُ kumandang adzan magrib telah berakhir, kami pun bergegas mengambil air wudlu, kubaca syahadat     do’a ba’da wudlu, ya Allah الحمد لله  otakku terasa plong, badan ku terasa segar, kubersujud kepada-Mu ya Robbi, aku adalah makhluq yang dloif, hambamu telah sesat karena ambisi, gelap mata karena popularitas, berilah aku hidayah agar tulisanku dapat di muat di surat kabar. Nadia bergumam dalam hatinya.
    Air matanya berlinang, dikarenakan Tio tartil dalam melafalkan al-fatihah dan surat, tuma’ninah dan khusyu dalam sholat magrib berjama’ah, ya Tio menjadi Imam sedangkan Nadia menjadi makmumnya, akankah....ia menemukan tambatan hatinya, itu tak mungkin, in Jakarta,
2
many beautifull girls, my be Tio has a wife or honey. Ku tak peduli, dalam bathinnya, syukur-syukur ku dilamarnya jadi istri pertama, kalo gak juga aku siap di madu. Biar jadi istri ke empat sekalipun, Tuhan please, jodohkanlah aku dengan Tio.
    “ayo Nadia, kita pesen tempat karo ikan etong bakar, wuih bumbunya sedap lho. Nadia durung mangan tah, mangan sing akeh, uis ojo pusing-pusing, engko ne  stress, arane urip ya pasti due masalah, sing penting kita sabar menjalaninya. Anggap saja ujian yang menimpa kita, itu datangnya dari الله itu tandanya الله sayang sama kita.”
 الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Dengan khidmatnya Tio memimpin do’a sebelum makan, kusantap makanan dan minuman yang tersaji, Tio bengong, 2 ikan etong bakar, dua sambel piring kecil, dua gelas es kelapa muda habis kusantap, hasilnya “tiuutttt” wuaduhhh muaalllunya, aku kentut. Se isi warung nisi semunya ngikik, melihat ulahku. “cuantik-cuantik kentut nya bau” kata the slankers yang lagi nongkrong di kafe.
    “Ok, please sekarang Nadia ceritakan masalahnya.” Ya aku telah bekenalan dengan nya, si handsome ini ternyata sama seperti diriku lagi ngejomblo, dah gonta-ganti pacar namun gak ada yang sreg, semuanya mata duitan. Pas di test ma ortunya ngaji, semua cewe di Jakarta pada ngacir mengambil langkah kaki seribu kagak sanggup meskipun di test pake Iqro. Ada juga yang bisa baca eh tahsin nya belepotan, Tio sendiri semprat protes sama mama hajinya (sebutan untuk ayah kandung), jawabannya klise, gak butuh keduniawian, malah Tio di ajak pulang, tambak ikan, kebon, sawah, lima alfa mart, gak ada yang ngelola, yang lainnya dah dibagi buat kakak-kakak Tio.
    “Sederhana sih, kang Tio”, usiaku 24 tahun sicikal yang manja, sedangkan Tio 27 tahun si bungsu yang dewasa banget. “Tos ratusan ngadamel artikel, cerpen, puisi sareng novel, nanging tulisan Nadia acan keneh di muat di surat kabar”. Rengekku sambil memanjakan diri, kubuka berbagai tulisan sebagai maha karyaku yang maha dahsyat. Weleh weleh muji sendiri awas lho riya, eh menurutku wajar because it is my feeling,ok.
 Lalu dengan intellegensi dan imajimasinya mirip dengan Barack Obama ketika mengedit berbagai proposal dana hibah, alis Tio ke atas, kadang mulut nya komat kamit kayak embah Dukun krajan, dipegangnya pulpen corat sana coret sini, hatiku berontak, gue kan capek, moso sa enak e dewe, tanpa ba bi bu, karya ku dicorat coret. Tiba-tiba Tio bersorak. “Horee” se isi warung kaget atas polahnya, sampai-sampai wa Polah menyemburkan air teh angetnya, “geblek” katanya, kucing pun lari terkencing-kencing. “Ini dia yang ku pilih, yes aku menemukannya, pasti ku muat, jangan kuatir dinda ku sayang, kang Tio akan memecahkan you problem, tapi ada syaratnya.” Deg plas jantungku berdegup kencang, apa? Tadi ngomong apa? Nyebut “Dinda sayang”, opo maksude, ora ngerti aku, eh malah minta syarat lagi.

3
 Duit? O wa la, kalau masalah itu, no problem Tio. Anting, gelang, cincin, rela kugadaikan asalkan tulisanku dimuat Tio. Kuberanikan diri bertanya pada kang Tio. “giliran mo di muat, malah minta syarat, apa saja syaratnya? Mo minta duit ya?” kurogoh pesakku, gak ada yang gratis di dunia ini pikirku.”eh, tunggu, tunggu, bukan duit maksudku, ehm gini, ku juga punya masalah nich, my parents said, where was again your girls Tio, I want to test read al-Qur’an again form your honey, if she good read al-Qur’an, we a gree you must be married with your girl choise.I think Nadia pasti bisa, Nadia kan alumni pondok pesantren, he he he kutemukan jodohku”. Plok plok plok se isi warung semua bertepuk tangan, hi hi hi ne Imah ngikik sampe kelihatan giginya yang udah ompong. “hei, apa-apa an ini, bilang cinta juga belum, eh gak tau nya mo dilamar, trus kalo gagal tulisanku gak dimuat, huh dasar cowo! Mana tahan, lantas Tio berdiri di atas kursi, menghadapku sambil mengucapkan kata-kata puitis. Ku terenyuh.
Oh Dindaku sayang tambatan hatiku
Sudilah kau menolong pangeranmu
Yang sedang rindu datang nya kekasih hatiku
Kan kubawa kau ke orang tua ku
Sebagai calon istri tercinta ku
    Tepuk tangan membahana se isi warung fathonah, teman sepermainan ku yang sudah punya anak tiga hasil buah cintanya dengan kosasih. Lidahku kelu, kutak mampu menjawabnya, sambil bertepuk tangan anak-anak fungky, bersorak riuah rendah, “cium, cium, cium, cium, cium, cium”. Tanganku diraih nya oleh Tio, ku lemas tak berdaya, manakala tangan ku dengan mesra nya sambil menunduk dikecup begitu mesra dan hangat sekali. Aku langsung semaput.
    Dengan disaksikan ke dua orang tua ku, dengan fasihnya ku baca  surat an-nisa 6 ayat dihadapan pengadilan tertinggi ke dua hakim calon mertuaku.  Dan kujawab 20 pertanyaan ilmu tajwid yang terdapat dalam bacaan itu,  lantas mereka menentukan hari pernikahan kami.  Kami pun mengarungi hidup berumah tangga dengan bahagia, ku tak peduli walau tulisan ku dimuat atau tidak, yang penting ku punya mas Tio. Mau tahu test nya, nich ku perlihatkan free test nya.
سورة النساء
بسم الله الرحمن الرحيم
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1) وَآَتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا (2) وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا (3) وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا (4) وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (5) وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آَنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا (6)
4


BIOGRAFI PENULIS :
Nama            : ASEP YUSUP ZAENI,S.Ag.
Tempat Tanggal Lahir    : Subang, 6 Desember 1971
Alamat    Rumah        : Dusun Mekarjati RT 35 RW 08 No. 53
Desa            : Pusakajaya
Kecamatan        : Pusakajaya
Kabupaten         : Subang
Provinsi            : Jawa Barat
Kode Pos        : 41255
HP            : 082129475181
Pendidikan        : Mahasiswa Pasca IAIN Syekh Nurjati Cirebon konsentrasi PAI
Pekerjaan        : guru Honorer
Status            : Menikah, anak satu laki-laki

Aktivitas menulis    : Puisi Republik Cinta (1998), puisi Kehadirat-Mu (1999), puisi Merajut 
                                              kembali kehidupan (200), cerpen Disaat-saat genting (2001), cerpen 
                                              jemari-jemari nan terampil (2002), artikel Mengatasi kemacetan lalu 
                                              lintas (2003), artikel Ilmu Laduni ada dan tiada (2005), artikel Konsep
                                              pendidikan Islami (2007), artikel Sistem Pendidikan Islam (2010).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar