LIA EDEN DALAM PERSFEKTIF TEOLOGI
MAKALAH DIBUAT SEBAGAI SALAH SATU SYARAT MENGIKUTI UAS
MATA KULIAH PENDEKATAN STUDI ISLAM
DOSEN : Dr. ILMAN NAFIA,M.Ag.
Disusun oleh :
Oleh : Asep Yusup Zaeni,S.Ag.
NIM : 14114310029
PAI/SMT I
INSTITUT AGAM ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2012
KATA PENGANTAR
Seraya memanjatkan puji syukur kehadirat Ilahy Rabby, Al-hamdulillah makalah dengan judul “Lia Eden dalam persfektif Teologis” dapat kami selesaikan pada waktu Ujian Awal Semester I prodi PAI di IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2012.
Dalam kesempatan ini, kami sampaikan ucapan terima kasih, kepada :
1. Ayah dan Ibunda tercinta atas do’a, motivasi dan wawasan keIslaman dengan nilai-nilai fundamental dan tradisional agar ananda tercinta tetap ikhlas dalam menuntut ilmu dengan imbalan surga fisabilillah di kampung akherat kelak.
2. Anak dan istri tersayang yang selalu mendorong dan memberikan dana talangan transport serta menyelesaikan administrasi keuangan, sehingga al-hamdulillah walaupun terasa letih intelektual, mental dan fisik akan tetapi kelembutan dan kasih sayang yang tulus dapat menggelorakan semangat untuk dapat menyelesaikan study.
3. Rekan-rekan senasib dan sepenanggungan yang sama-sama berharap bertambah wawasan keislaman dan dapat menyelesaikan tugas-tugas makalah dari dosen, semoga Allah meridloi jejak langkah kita.
Di awali dari sebuah tawaran dari Dr. Ilman Nafia,M.Ag. untuk membuat makalah tentang Lia Eden dalam Persfektif Teologis, maka saya mencoba menelaah literatur tentang Lia Eden, baik melalui buku-buku di perpustakaan, koran, you tube Lia Eden serta artikel untuk dapat melengkapi penulisan makalah sehingga sesuai denggan apa yang diharapkan.
Menulis tentang Eden, saya berusaha bersikap adil baik dari pandangan Hak Asasi Manusia maupun dari sisi teologis, dikarenakan dalam pendekatan HAM secara individu manusia bebas untuk memilih agama dan kepercayaannnya masing-masing, tentu saja ajaran dan peribadatan yang dilakukan oleh Lia Eden tidak terdapat pelanggaran dan hal itu dibenarkan oleh Undang-undang Dasar 1945. Akan tetapi bila dilihat dari kacamata teologi, Islam memberikan satu justifikasi yang tidak dapat diganggu gugat bahwa khotaman nabiyyin itu adalah Nabi Muhammad sebagai Rosul dan utusan terakhir.
Polemik antara ummat beragama termasuk didalamnya Islam dengan Lia Eden semakin menguat, manakala Lia Eden membuat fatwa untuk membubarkan agama Islam. Hal ini merupakan suatu fatwa hukum yang bertentangan dengan negara dikarenakan di negara Indonesia Islam merupakan salah satu agama yang di akui oleh Pemerintah.
Demikian penulis dalam mengantarkan sebuah pengantar, mudah-mudahan dapat dimengerti oleh semua fihak.
Cirebon, Juli 2012
Penulis
I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................I
DAFTAR ISI................................................................................................................. II
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH............................................................ i
B. RUMUSAN MASALAH .....................................................................viii
C. TUJUAN PENULISAN .......................................................................viii
D. MANFAAT PENULISAN.....................................................................viii
BAB II BIOGRAFI SINGKAT LIA EDEN
A. BIOGRAFI LIA EDEN....................................................................................1
B. PENGAKUAN BERTEMU MALAIKAT JIBRIL................................................12
BAB II I ROSULULLOH SEBAGAI KHATAMAN NABIYYIN
A. PENGERTIAN KHATAMAN NABIYYIN..........................................................5
B. MULTI TAFSIR KHATAMAN NABIYYIN........................................................6
BAB IV SISTIM PERIBADATAN LIA EDEN
A. KOMUNITAS LIA EDEN MIRIP DENGAN SEKTE...........................................9
B. IMAM MAHDI MENURUT AJARAN ISLAM................................................10
BAB V LIA EDEN DALAM PERSFEKTIF TEOLOGI
A. PENGEMBARAAN MENCARI KEBENARAN................................................12
B. TIADA TUHAN SELAIN ALLAH MUHAMMAD UTUSAN ALLAH..................13
BAB VI PENUTUP
A. KESIMPULAN ...................................................................................14
B. SARAN-SARAN..................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................III
II
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Hidup di alam dunia memang tidak ada yang mutlak dan kebenaran tidak bisa bersifat tunggal, semuanya masih relatif dan kebenaran itu masih bersifat nisbi, kita mengenal teori evolusi Charles Darwin, yang mempunyai hipotesis bahwa manusia berasal dari kera, dikarenakan ada kemiripan antara manusia dengan kera.
Teori evolusi ini dipelopori oleh seorang ahli zoologi bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia. Menurutnya manusia sekarang ini adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu ajaran(pengertian) bahwa manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna.Tetapi dalam hal ini Darwin sendiri kebingungan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Walaupun pernyataan Darwin dalam bukunya yang berjudul "The Origin of Species" dapat dikatakan sukses besar karena membahas masalah yang menyangkut asal usul manusia, namun hal ini hanyalah bersifat dugaan belaka.
Tentu saja teori dari Charles Darwin itu di tolak oleh Ummat Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, tentang surat al-Baqarah,2:30, yaitu :
i
•
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Tafsir
Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul A'la, sebelum mereka diadakan.
Maka Allah berfirman :
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat."
Maksudnya, hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu.
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi."
Yakni, suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dialah yang menjadikankamu sebagai khalifah-khalifah di bumi." (Faathir ayat 39)
Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi."
Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah,
"Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya." Seolah-olah Allah memberitahukan kepada para malaikat bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.
Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya?" Ibnu Jarir berkata, "Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?"
ii
Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, "Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"
yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan diantara mereka para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali.
Akan tetapi walau pun dibantah melalui kitab suci al-Qur’an bahwa manusia pertama adalah Adam dan diciptakan dari tanah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hijir,15:26 yang berbunyi :
•
26. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Dalam Qur’an surat Ar-Rahman,55 : 14, berbunyi
14. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,
Kemudian dalam surat Shaad,38:71-72 yang berbunyi :
71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah".
72. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".
iii
Tetap saja rupanya, karena ilmu pengetahuan Alam dengan sub mata pelajaran Biologi diajarkan diseluruh dunia, diantaranya tentang teori evolusi Charles Darwin, sedangkan mata pelaran PAI tentang manusia diciptakan dari tanah dan manusia pertama adalah Adam AS, hanya diajarkan untuk ummat Islam di sekolah, di madrasah, di majlis ta’lim, di mesjid artinya bersifat parsial dan sektarian, maka dunia akademisi lebih mempopulerkan hypotesa charles Darwin daripada kebenaran mutlak dari kitab suci termasuk didalamnya al-Qur’an.
Lalu bagaimanakah dengan Lia Eden, sekalipun sedang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan, namun wahyu, ajaran dan peribadatan Lia eden sampai sekarang masih tetap lestari, hal ini merupakan suatu pekerjaan bagi bangsa Indonesia dan ummat Islam pada khususnya dikarenakan komunitas Lia Eden pun mendapatkan pembelaan dari Forum Murtadin di Indonesia, yang mencoba menetralisir pola gerakan dan peran Lia Eden dengan tujuan menolak segala bentuk arabisasi demi tegaknya Indonesia yang berbhineka tunggal ika.
Inilah diantaranya pembelaan yang dilakukan oleh Forum Murtadin Indonesia yang saya ambil dari blogger mereka :
LIA EDEN MUHAMMAD
Lia Aminuddin atau lebih dikenal sebagai Lia Eden (lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 21 Agustus 1947) adalah pemimpin kelompok kepercayaan bernama Kaum Eden yang kontroversial. Ibunya bernama Zainab, dan bapaknya bernama Abdul Ghaffar Gustaman, seorang pedagang dan pengkhotbah Islam aliran Muhammadiyah. Pada umur 19 tahun, Lia menikah dengan Aminuddin Day, seorang dosen di Universitas Indonesia dan dikaruniai empat orang anak.
Pada awalnya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang menempuh pendidikan hanya sampai jenjang SMA dan sebelumnya mempunyai profesi sebagai perangkai bunga bahkan pernah mempunyai acara tampilan khusus mengenai merangkai bunga di TVRI.
Menurut Lia, peristiwa ajaibnya yang pertama adalah sewaktu dia melihat sebuah bola bercahaya kuning berputar di udara dan lenyap sewaktu baru saja ada di atas kepalanya. Hal ini terjadi sewaktu dia sedang bersantai dengan kakak mertuanya di serambi rumahnya di Senin pada 1974.
Menurutnya lagi, peristiwa ajaib kedua yang telah megubah prinsip hidupnya berlaku pada malam 27 Oktober 1995 kala dia sedang sholat. Pada masa itu, dia telah merasakan kehadiran pemimpin rohaninya, Habib al-Huda yang mengaku dirinya sebagai Jibril pada waktu itu. Setelah itu Lia Eden mengaku dia menerima bimbingan Malaikat Jibril secara terus menerus sejak 1997 hingga kini.
Selama dalam proses pembimbingan itu, ia mengatakan bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik Lia Eden melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas perintah Jibril. Proses penyucian itu menurut ia sangat berat dan tak pernah berhenti hingga kemudian Tuhan memberinya nama Lia Eden sebagai pengganti namanya yang lama.
Di dalam penyuciannya, ia mengatakan bahwa Tuhan menyatakan Lia Eden sebagai pasangan Jibril sebagaimana ditulis di dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa dialah yang dinyatakan Tuhan sebagai sosok surgawi-Nya di dunia.
Selain menganggap dirinya sebagai menyebarkan wahyu Tuhan dengan perantaraan Jibril, dia juga menganggap dirinya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Dia juga telah mengarang lagu, syair dan juga buku sebanyak 232 halaman berjudul, "Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir" yang ditulis dalam waktu 29 hari.
Pada 1998, Lia menyebut dirinya Imam Mahdi yang muncul di dunia sebelum hari kiamat untuk membawa keamanan dan keadilan di dunia. Selain itu, dia juga memanggil dirinya Bunda Maria, ibu dari Yesus Kristus. Lia juga mengatakan bahwa anaknya, Ahmad Mukti, adalah Yesus Kristus.
Agama yang dibawa oleh Lia ini berhasil mendapat kurang lebih 100 penganut pada awal diajarkannya. Penganut agama ini terdiri dari para pakar budaya, golongan cendekiawan, artis musik, drama dan juga pelajar. Mereka semua dibaptis sebagai pengikut agama Salamullah. Karena Lia merupakan seorang penulis dan pendakwah yang handal, maka ia bisa meyakinkan orang mengenai kebenaran dakwahnya.
Pada bulan Desember 1997, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melarang perkumpulan Salamullah ini karena ajarannya dianggap telah menyelewengkan kebenaran mengenai ajaran Islam. Kumpulan ini lalu membalas balik dengan mengeluarkan "Undang-undang Jibril" (Gabriel's edict) yang mengutuk MUI karena menganggap MUI berlaku tidak adil dan telah menghakimi mereka dengan sewenang-wenang.
Kumpulan Salamullah ini juga terkenal karena serangannya terhadap kepercayaan masyarakat Jawa, mengenai mitos Nyi Roro Kidul yang didewakan sebagai Ratu Laut Selatan. Pada tahun 2000, agama Salamullah ini diresmikan oleh pengikut-pengikutnya sebagai sebuah agama baru. Agama Salamullah mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir tetapi juga mempercayai bahwa pembawa kepercayaan yang lain seperti Buddha Gautama, Yesus Kristus, dan Kwan Im, dewi pembawa rahmat yang disembah orang Tionghoa, akan muncul kembali di dunia.
Sejak 2003, kumpulan Salamullah ini memegang kepercayaan bahwa setiap agama adalah benar adanya. Kumpulan yang diketuai Lia Eden ini kini dikenal sebagai Kaum Eden.
Kotham atau yang lebih dikenal dengan Muhammad (lahir di Mekah, pada 20 April atau 29 Agustus, 570) adalah pemimpin kelompok kepercayaan bernama Islam yang kontroversial. Ibunya bernama Aminah, dan bapaknya bernama Abdullah, seorang Kuncen Kabah (penjaga kabah) yang mendapatkan penghidupan dari orang2 yang menyembah patung2 di Kabah Mekah. Pada umur 25 tahun, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang janda yang merupakan pengusaha wanita terkaya di Mekah.
Pada awalnya dia adalah seorang pemuda miskin yang tak punya apa2. Yang kemudian bekerja sebagai pembantu di bisnis Khadijah. Kehidupan Muhammad berubah setelah sang majikan mengangkat dirinya sebagai suami.
iv
Menurut Muhammad, peristiwa ajaibnya yang pertama adalah sewaktu ia mengaku ada dua orang berpakaian putih datang padanya dengan baskom emas penuh salju, kemudian membelah tubuhnya dan mengambil gumpalan hitam lalu mencuci jantung dan tubuhnya dengan salju.
Menurutnya lagi, peristiwa ajaib yang sangat berpengaruh dalam merubah prinsip hidupnya berlaku di suatu malam dibulan Ramadhan ditahun 610 kala dia sedang bersemedi di Gua Hira. Pada masa itu, dia mengaku bertemu dengan makluk gaib, yang kemudian menginjak dadanya hinggak sesak sebanyak tiga kali. Karena begitu takutnya, Muhammad lari kerumah dan menemui istri serta Waraqah, saudara sepupunya. Waraqahlah yang kemudian mengatakan bahwa makluk gaib itu adalah Malaikat Jibril.
Selama dalam proses pembimbingan itu, ia mengatakan bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik Muhammad melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas perintah Jibril. Proses penyucian itu menurut ia sangat berat dan tak pernah berhenti hingga kemudian Allah memberinya gelar sebagai utusan dan rasul Allah.
Di dalam penyuciannya, ia mengatakan bahwa Allah menyatakan Muhammad sebagai Nabi sebagaimana ditulis di dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa dialah yang dinyatakan Allah sebagai pembimbing manusia dan para jin ke jalan yang benar.
v
Selain menganggap dirinya sebagai menyebarkan wahyu Tuhan dengan perantaraan Jibril, dia juga menganggap dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan mujizat. Dia juga telah mengarang buku yang merupakan versi Arab dari beberapa kitab seperti Taurat, dan Injil Nestorian. Buku ini kemudian disebut dengan Al Quran, diselesaikan dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun.
Muhammad juga menyebut dirinya Nabi terakhir yang muncul di dunia sebelum hari kiamat untuk menjadi suri teladan dan rahmat bagi semesta alam. Selain itu, dia juga menganggap nabi2 Yahudi seperti Musa, Idris dan Yusuf, sebagai saudaranya. Muhammad juga mengatakan Yesus Kristus adalah hakim yang akan mengadili manusia pada saat kiamat nanti.
Agama yang dibawa oleh Muhammad ini hanya berhasil mendapat kurang lebih 70 penganut selama 13 tahun pada awal diajarkannya di Mekah. Penganut agama ini terdiri dari para budak, golongan rendahan, yang menggantungkan hidupnya pada kekayaan Muhammad. Karena Muhammad merupakan seorang pendakwah yang handal, maka ia bisa meyakinkan orang mengenai kebenaran dakwahnya.
vi
Kaum penyembah berhala di Mekah telah melarang dan mengucilkan para pengikut Rasulullah ini karena ajarannya dianggap telah mencela dan menghina kepercayaan masyarakat Mekah. Bahkan agama Rasulullah ini mengajarkan untuk membenci ayah, ibu dan saudara2 mereka sendiri jika mereka belum mengikuti Islam. Kumpulan ini kemudian hijrah ke Medinah, lalu membalas balik dengan merampoki para pedagang Mekah yang telah melarang perkumpulan ini.
Pengikut Rasulullah ini juga terkenal karena serangannya terhadap kepercayaan Nasrani, mengenai peristiwa kematian dan penyaliban Yesus Kristus, serta konsep ketuhanan yang ada pada diri Yesus. Kumpulan Perampok yang bermarkas di Medinah ini semakin lama semakin besar setelah sukses dalam beberapa perampokan, baik terhadap para pedagang Mekah, ataupun perampokan terhadap masyarakat Yahudi Medinah. Setelah berhasil merampok dan menguasai tanah Arab, kelompok ini melebarkan sayapnya untuk menguasai negara2 tetangganya seperti Iran, Mesir dan Turki.
Sejak itu, pengikut Rasulullah memegang kepercayaan bahwa setiap agama adalah salah, dan hanya Islamlah satu2nya agama yang diakui Allah, oleh karenanya siapapun yang tak mau mengakui agama ini harus diperangi. Kepercayaan yang dibawa Muhammad ini kini dikenal sebagai Islam.
vii
Bagi saya pribadi, dan Insya Allah Ummat Islam khususnya di Indonesia tidak setuju dengan tulisan berupa pembelaan dari forum murtadin Indonesia, dikarenakan utusan Allah yang terakhir kalinya sebagai nabi penutup tiada lain dan hanya satu-satunya yaitu Nabi/Rosul Muhammad SAW. Namun rupanya seperti Ahmad Musaddeq yang mengaku dirinya sebagai seorang Nabi, wacana tentang Nabi masih dapat diperdebatkan dikarenakan khataman nabiyyin menurut faham Ahmad Musaddeq dan juga Ahmadiyyah bukan penutup para nabi akan tetapi dapat diartikan cincin para nabi.
Agar lebih detail mengupas tentang Lia eden, saya akan mencoba menjelaskan sebagaimana muslim pada umumnya melalui makalah dengan judul “Lia Eden dalam Persfektif Teologi”mulai dari biografi, ajaran dan peribadatan Lia eden kemudian bantahan-bantahan dari penulis tentang kenabian Lia Eden.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun perumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Siapakah Lia eden itu?
2. Bagaiamana pengertian khataman nabiyyin itu ?
3. Bagaimana faham dan peribadatan Lia Eden ?
4. Bagaiamana Lia Eden dalam Persfektif Teologi ?
C. TUJUAN PENULISAN
Sedangkan tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengenal biografi singkat Lia Eden
2. Mencoba menelusuri pengertian khataman nabiyyin
3. Mengetahui faham dan peribadatan Lia Eden.
4. Mengetahui tinjauan Lia Eden dalam persfektif Teologi
D. MANFA’AT PENULISAN
Dan manfaat dalam penulisan makalah ini, yaitu :
1. Dapat mempelajari biografi singkat Lia Eden
2. Dapat mengetahui pengertian khataman nabiyyin
3. Dapat memeahami faham dan peribadatan Lia eden
4. Dapat memahami tinjauan Lia Eden dalam Persfektif Teologi
viii
BAB II
BIOGRAFI SINGKAT LIA EDEN
A. BIOGRAFI LIA EDEN
Sedikit sekali literatur tentang riwayat hidup Lia Eden, bila Rosululloh kita mengetahui riwayat hidupnya semenjak bayi hingga wafat, maka Lia Aminuddin (baca; Lia Eden) dikenal oleh masyarakat secara luas setelah ia dewasa. Ada perbedaan jenis kelamin antara Rosul yang diutus oleh Rosul sejak zaman nabi Adam sampai dengan khataman Nabiyyin Muhammad SAW dengan Lia Eden yang berjenis kelamin Perempuan. Dan hal ini sebagaimana kita ketahui mufassirin menjelaskan sebagaimana bunyi firman Allah dalam al-Qur’an, surat al-anbiyya,21:7, yaitu :
7. Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui.
Di dalam tafsir Al-Jami” li Ahkamil Quran karya Al-Imam Al-Qurtubi dijelaskan bahwa firman Allah SWT, “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka“, sebagai jawaban atas argumentasi para orang kafir yang meragukan kenabian Muhammad SAW. Mereka mencemooh bahwa Muhammad SAW itu sama saja dengan manusia biasa. Tidak ada kelebihan apapun, sehingga tidak perlu diikuti ajarannya.
Maka Allah SWT turunkan ayat ini yang membandingkan antara nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu. Di mana para nabi terdahulu itu sama saja dengan beliau SAW, sama-sama manusia biasa. Hanya saja mereka mendapatkan wahyu dari Allah SWT.
Disebutkan ”beberapa laki-laki” untuk menunjukkan bahwa para nabi terdahulu tidak lain juga manusia, sebagaimana Muhammad SAW juga manusia. Tapi yang membedakan, para nabi terdahulu dan juga Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah. Ayat ini menegaskan bahwa nabi itu bukan malaikat, karena disebutkan dengan kata ”laki-laki, yang menunjukkan bahwa mereka adalah dari jenis manusia.
1
Firman-Nya: Fas”alu ahlaz-zikri (tanyakan kepada ahli zikri). Apabila para orang kafir itu masih belum bisa menerima argumentasi ini, silahkan saja mereka bertanya kepada ahluz zikri. Sufyan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ahlaz-zikri adalahpara ahli Taurat dan Injil yang telah beriman kepada nabi Muhammad SAW (sudah masuk Islam).
Disebut mereka itu ahluz-zikri (makna zikr adalah mengingat), karena mereka paham dan mengerti betul kisah para nabi terdahulu yang belum dikenal oleh bangsa Arab. Dan para kafir Quraisy memang terbiasa bertanya kepada ahli Taurat dan Injil tentang nab-nabi terdahulu. Di sini Allah menegaskan kembali untuk bertanya kepada mereka bila belum tahu.
Sedangkan untuk informasi Lia Eden kami peroleh data dari wikipedia bahasa Indonesai secara singkat biografinya adalah sebagai berikut :
Lia Aminuddin atau lebih dikenal sebagai Lia Eden (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 21 Agustus 1947; umur 64 tahun) adalah pemimpin kelompok kepercayaan bernama Kaum Eden. Ibunya bernama Zainab, dan bapaknya bernama Abdul Ghaffar Gustaman, seorang pedagang dan pengkhutbah Islam aliran Muhammadiyah. Pada umur 19 tahun, Lia menikah dengan Aminuddin Day, seorang dosen di Universitas Indonesia dan dikaruniai empat orang anak.
Pada awalnya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang menempuh pendidikan hanya sampai jenjang SMA dan sebelumnya mempunyai profesi sebagai perangkai bunga bahkan pernah mempunyai acara tampilan khusus mengenai merangkai bunga di TVRI.
B. Pengakuan Bertemu dengan Malaikat Jibril
Menurut Lia, peristiwa ajaibnya yang pertama adalah sewaktu dia melihat sebuah bola bercahaya kuning berputar di udara dan lenyap sewaktu baru saja ada di atas kepalanya. Hal ini terjadi sewaktu dia sedang bersama dengan kakak mertuanya di serambi rumahnya di kawasan Senen, Jakarta Pusat pada 1974.
Menurutnya lagi, peristiwa ajaib kedua yang telah mengubah prinsip hidupnya berlaku pada malam 27 Oktober 1995 kala dia sedang bersantai. Pada masa itu, dia telah merasakan kehadiran pemimpin rohaninya, Habib al-Huda yang kemudian mengaku dirinya sebagai Jibril pada waktu itu. Setelah itu Lia Eden mengaku dia menerima bimbingan Malaikat Jibril secara terus menerus sejak 1997 hingga kini.
2
Selama dalam proses pembimbingan itu, ia mengatakan bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik Lia Eden melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas perintah Jibril. Proses penyucian itu menurut ia sangat berat dan tak pernah berhenti hingga kemudian Tuhan memberinya nama Lia Eden sebagai pengganti namanya yang lama.
Di dalam penyuciannya, ia mengatakan bahwa Tuhan menyatakan Lia Eden sebagai pasangan Jibril sebagaimana ditulis di dalam kitab-kitab suci. Dan ia mengatakan bahwa dialah yang dinyatakan Tuhan sebagai sosok surgawi-Nya di dunia.
Bila kita amati dari pengakuan Lia Eden tentang menerima wahyu, tentu hal ini merupakan pengakuan yang bersifat kontroversial, dan marilah kita bahas tentang wahyu ini, tentu saja dalam persfektif Islam.
Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul.
Etimologi
Etimologinya berasal dari kata kerja bahasa Arab وَحَى (waḥā) yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi.
Dalam agama Islam
Dalam syariat Islam, wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Kata "wahyu" adalah kata benda, dan bentuk kata kerjanya adalah awha-yuhi, arti kata wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat.
Selanjutnya dijelaskan lebih dalam bahwa pengertian makna wahyu meluas menjadi beberapa makna, diantaranya adalah sebagai:
• Perintah
• Isyarat, seperti yang terjadi pada kisah Zakaria
•
10. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".
3
11. Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.
• Ilham secara kodrati dan insting
Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah at-Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak.
Penerima wahyu
• Malaikat[1]
• Nabi dan rasul[2]
• Orang-orang beriman:
o Hawa istri Adam
o Sarah istri Ibrahim
o Dzul Qarnain[3]
o Yukabad ibunda Musa,[4] pendapat lain mengatakan namanya adalah Yuhanaz Bilzal.[5]
o Asiyah ibunda angkat Musa
o Maryam ibunda dari Isa[6]
o Pengikut Isa[7]
• Makhluk lainnya:
o Hewan[8]
o Langit ketujuh[9]
o Bumi[10]
Dari pengertian di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa wahyu hanya diberikan kepada Nabi/Rosul, orang-orang beriman dan makhluk lainnya. Sedangkan untuk Lia Eden al-Qur’an tidak memberikan informasikan secara tertulis bahwa Lia Eden akan mendapatkan wahyu kenabian dan mendapat tugas sebagai seorang Rasul.
Di zaman yang sudah rasional, dengan adanya pengakuan seperti Lia Eden, tidak seharusnya terjadi, mengingat presentasi penggunaan akal antara zaman sekarang dengan zaman purba jelas berbeda, bila zaman paleolithicum (zaman batu tua), mesolithicum (zaman pertengahan) dan neolithicum (zaman batu muda) saat itu manusia membutuhkan nuansa spiritual sehingga muncul kepercayaan animisme dan dinamisme, yang menuhankan roh nenek moyong dan benda-benda yang dianggap keramat. Maka diutuslah Nabi/Rosul sebagai penyelamat aqidah dan tauhid kaum pada waktu itu. Namun bila zaman millenium sekarang ini muncul maka kehidupan manusia dalam mode sudah modern tapi dalam keyakinan mlebihi manusia purba kebodohonnya.
4
BAB III
ROSULULLOH SEBAGAI KHOTAMAN NABIYYIN
A. PENGERTIAN KHOTAMAN NABIYYIN
Pengakuan Lia Eden bahwa ia telah menerima wahyu, lantas kemudian ia mengaku sebagai seorang Nabi/Rosul tentu saja menimbulkan polemik dalam persfektif hukum positif di Indonesia, dikarenakan penutup para Nabi/Rosul adalah Nabi Muhamad tidak ada lagi sesudahnya. Maka tak heran bila penyelesaian ajaran Lia Eden ditempuh dengan jalur hukum.
Baiklah agar kita dapat meyakini bahwa Nabi Muhammad sebagai Rosul yang terakhir di utus oleh Allah SWT dan lantas kemudian timbul silang pendapat dan ada pendapat berbeda dengan fenomena munculnya berbagai Nabi palsu, kita bahas secara komprehensif.
Saya mencoba mendalami literatur dari Ahmadiyah, dari beberapa blogger tentang khataman nabiyyin menurut pemahaman atau pun keyakinan mereka, ternyata ada pemahaman keilmuan yang keliru pengertian dari khataman nabiyyin itu, sehingga menimbulkan sebuah komunitas baru dengan kelompok keagamaan yang mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi bukan pembawa syaria’at, Imam Mahdi sebagai pertanda akhir zaman, dengan kitab suci Tadzkirah.
Namun perlu di ingat dalam makalah ini saya bukan menelaah tentang Ahmadiyah, akan tetapi Lia Eden yang mempunyai persfektif yang sama dikarenakan di abad modern sekarang ini masih ada saja muncul nabi-nabi baru.
Menurut versi Ahmadiyah berawal dari turunnya Q.S. al-ahzab,33:40, yaitu :
• •
40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[1223]., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
[1223] Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, Karena itu janda aZaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.
Asbab an-Nuzul dari Q.S. al-ahzab,33:40 merupakan sebuah koreksi dari Allah SWT terhadap kebiasaan kaum kuffar Quraisy kala itu, yang mempunyai tradisi secara turun temurun bahwa anak tiri atau anak angkat statusnya seperti anak sendiri. Adanya justifikasi dari Allah SWT yang menghalalkan pernikahan yang dilakukan oleh Rosululloh dengan hadrat Siti Zainab janda dari Zaid, merupakan sebuah kemulyaan dari ajaran Islam, bahwasannya Islam memandang pernikahan itu bukan dari asfek biologis semata yang terpenting tersalurkannya kepuasan Sex masing-masing pasangan.
5
Akan tetapi dari sudut pandang teologi bahwa pernikahan itu merupakan ikatan perkawinan yang syah dari syari’at Islam untuk melakukan hubungan sosial kemasyarakatan, sehingga kedudukan wanita itu dapat lebih terhormat dan ada yang menlindungi selaku khalifah dalam kehidupan berumah tangga.
B. MULTI TAFSIR KHATAMAN NABIYYIN
Namun yang menjadi masalah dari ayat di atas untuk pemahaman mengenai pernikahan Rosululloh dengan hadrat Siti Zainab antara ummat Islam dan Ummat ahmadiyah terjadi kesepakatan, tetapi untuk bunyi khataman nabiyyin terjadi multi tafsir, menurut klaim dari Ahmadiyah bahwa khataman nabiyyin itu artinya “cincin/stempel kenabian” dan memang Muhammad adalah Nabi/Rosul syari’at yang terakhir sebagai penutup para Rosul. Sedangkan nabi yang ma’rifat masih terus akan bermunculan sampai akhir zaman untuk melanjutkan risalah kenabian yang telah disampaikan oleh Muhammad sebagai Rosul yang terakhir.
Sabda Nabi Muhammad saw. kepada Hadhrat Umar r.a. :
اِطْمَئِنَّ يَاعُمَرَ فَاِنَّكَ خَاتَمُ الْمُهَاجِرِيْنَ فىِ الْهِجْرَةِ كَمَااَنَا خَتَمُ النَّبِيِّيْنَ فىِ النُّبُوَّةِ.
Artinya:
“Tenangkanlah hatimu wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah khatam orang-orang yang berhijrah, sebagaimana aku adalah khatam nabi-nabi”. (Kanzul Umal, Juz VI, halaman 178).
Sabda Nabi saw. kepada Ali r.a. :
اَنَا خَاتَمُ اْلاَنْبِيَاءِ وَاَنْتَ يَاعَلِيُّ خَاتَمُ اْلاَوْلِيَاءِ.
Artinya:
“Aku adalah khatam nabi-nabi dan engkau wahai Ali khatam wali-wali” (Tafsir Safi dibawah ayat khataman nabiyyin)
Perkataan khatam juga berarti cincin. Cincin adalah perhiasan bagi para nabi-nabi. Di sini kita salinkan pendapat ahli tafsir tentang perkataan khatam tadi itu:
) – ص صَارَكَالْخَاتَمِ لَهُمُ الَّذِى يَخْتِمُوْنَ بِهِ ويَتَـزَيَّنُوْنَ بِكَوْنِهِ مِنْهُمْ. (تقسير فتح البيان, جلد
Artinya:
“Adalah ia (Nabi Muhammad saw.) itu seperti cincin bagi mereka (para nabi-nabi), dan mereka berperhiasan dengannya, karena beliau salah seorang dari golongan mereka”(Tafsir Fathul Bayaan, jilid VII, halaman 286).
6
اَلْخَاتَمُ بِمَعْنىَ الزِّيْنَةِ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْخَاتَمِ الَّذِى هُوَزِيْنَةٌ لِلاَبِسِهِ.
(مجمع البحار)
Artinya :
“Khatam berarti perhiasan berasal dari khatam (cincin) yang menjadi perhiasan bagi pemakainya”.
Dari sudut pandang kajian filsafat kebenaran yang terdapat di alam dunia ini memang tidak lah mutlak dan tidak lah bersifat tunggal, akan tetapi relatif dan transenden, hal ini memang wajar, apalagi dilindungi oleh Hak Asasi Manusia dan UU 1945 yang membolehkan adanya kebebasan untuk menyatakan pendapat yang tercantum dalam pasal 27 ayat 1 dan 2, dan Allah SWT sendiri menciptakan lawan, siang malam, pagi sore dan seterusnya. Hal yang wajar menurut anggapan ahmadiyah, atau pun mungkin pula bagi pengikut Ahmad Musaddeq dan juga Lia Eden menurut pengikutnya yang merasa membutuhkan figur ditengah kegalauan zaman kemudian menjadi pengikut setia komunitas sesat yang menurut anggapan mereka menjadi juru penyelamat di muka bumi. Ditambah lagi dengan adanya penafsiran dari Ahmadiyah bahwa jika Ibrahim putra Rosululloh tidak wafat hasil pernikahan Rosul dengan Maria Qibtiyah lantas Rosul bersabda bahwa jika usia nya panjang akan menjadi nabi yang benar pada hal Q.S. al-ahzab,33:40 diturunkan lima tahun sebelumya, berarti ada peluang setelah Rosul wafat untuk menjadi seorang “nabi”. Sungguh merupakan anggapan yang keliru.
1. Umayyah bin Abi Salt dalam Kitab Diwan hal 24 menulis mengenai Khaataman nabiyin : “Dengannya (Rasulullah saw) telah dicap/stempel para nabi sebelum maupun sesudahnya”.
2. Abu Ubaidah (wafat 209 H) ketika mengomentari Khair Al Khawatim dalam Naqa’id ibn Jarir dan Faradzaq tentang rasulullah saw sebagai khaataman nabiyyin : “Nabi saw adalah Khaatam al Anbiya, yaitu sebaik-baik para nabi”.
3. Abu Riyash Ahmad Ibrahim Al Qaisi (wafat 339 H) dalam mengomentari kitab Hasyimiyyat karangan Al Kumait berkata : “Barang siapa mengatakan Khaatim al anbiya, maka ia adalah dengannya para nabi di cap/stempel, dan barang siapa yg mengatakan Khaatam al anbiya, maka ia adalah sebaik-baik para nabi. Dikatakan” Fulan khaatam kaumnya”, yakni ia adalah terbaik dari antara mereka”.
4. Allamah Al Zarqani menulis dlm Syarah Al Mawahib Al Laduniyah Juz III, hal 163, bahwa jika khatam dibaca dengan baris di atas ta sebagaimana tersebut dlm Al Qur’an (al ahzab 40), maka artinya : “sebaik-baik para nabi dlm hal kejadian dan dalam hal akhlak”.
7
5. Imam Mulla Ali al Qari menulis dlm kitabnya Al Maudhu’at hal.59 tentang Khaatam Al Nabiyyin : “Tidak akan datang lagi sembarang nabi yg akan memansukhkan agama Islam dan yg bukan dari umat beliau”.
6. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani r.a. dalam Kitab ” Al Insanul Kamil” cetakan Mesir, bab 33, hal 76 menulis : “Kenabian yg mengandung sya’riat baru sudah putus. Nabi Muhammad adalah “Khaataman nabiyyin”, ialah karena beliau telah membawa syari’at yg sudah sempurna dan tiada ada seorang Nabi pun dahulunya yg membawa syariat yg begitu sempurna”.
7. Ibnu Khuldun telah menulis dalam mukadimah tarikh-nya hal 271 : “Bahwa ulama-ulama Tasawuf mengartikan “Khaataman Nabiyyin” begini; yakni Nabi yg sudah mendapat kenabian yg sempurna dalam segala hal”.
8. Syekh Abdul Qadir Al Karostistani r.a. menulis : ” Adanya beliau saw Khaataman nabiyyin maknanya ialah sesudah beliau tidak akan ada nabi diutus dengan membawa syariat lain”. (Taqribul Muram, jld 2, hal 233). Hal ini sebagaimana ditulis dalam blogger Jamluddin Feeli .
Dari pendapat di atas dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa Rosululloh sebetulnya oleh pengikut ahmadiyah sendiri di akui sebagai Rosul yang terakhir hanya menurut anggapan mereka disepakati dalam hal syari’at, maka fenomena munculnya Lia Eden dan Ahmad Musaddeq itu adalah sebuah kebenaran yang harus pula diakui oleh ummat Islam diantaranya. Pertanyaannya adakah nabi ma’rifat? Dikarenakan Mirza Gulam Ahmad juga mempunyai kitab suci yaitu tadzkirah, dan Lia Eden sendiri dengan duduk disinggasananya kerajaannya mengaku menerima wahyu dari Tuhan atas perantara Malaikat Jibril dan membentuk sebuh kelompok ritual terbaru yaitu Salamullah. Jadi bukan untuk melanjutkan tugas kenabian Rosululloh seperti yang diperankan oleh Khulafaur Rasyidin, Tabiat tabi’in, waliyullah dan para alim ulama, anehnya malah mempunyai fatwa untuk membubarkan agama Islam.
Firaun Mesir sekalipun selaku Raja, hanya mampu mengusir dan membenci Nabiyullah Musa As dari tanah Mesir, tapi tetap mempunyai rasa takut akan kebenaran agama yang diemban risalahnya oleh Nabiyullah Musa As. Lia Eden malah lebih berani dengan fatwa nya yang jelas menyinggung perasaan ummat Islam.
8
BAB IV
SISTIM PERIBADATAN LIA EDEN
A. KOMUNITAS LIA EDEN MIRIP DENGAN SEKTE
Tak jelas, sistim peribadatan Lia Eden itu, hanya yang kita ketahui, semacam upacara ritual keagamaan seakan-akan atas perintah Tuhan mereka, sebagai salah satu cara penghambaan manusia terhadap al-Khaliq. Dalam ajaran Islam ibadah dibagi dua mahdloh dan ghoiru mahdloh, ada sistem muamalah dan ada pula sistem syari’ah, ada urusan keduniaan dan ada pula urusan ke akhiratan. Bila urusan keduniaan “antum a’lamu bi umuriddunyakum” sedangkan untuk urusan akhirat harus “Atiulloha wa Athiurrosula” sehingga kita mesti “Sami’na wa ato’na”.
Sedangkan untuk Lia Eden mirip sebuah sekte. Dalam Religion in Secular Society, Bryan R Wilson menuturkan bahwa sekte terepresentasikan dalam strata partikular, yang mana para anggota kelompoknya merasa tidak diakomodasi secara keagamaan dan barangkali secara sosial . Menurut wilson, ada empat ciri umum dari kemunculan sekte dalam setiap tradisi agama. Pertama, dari segi ajaran, biasanya berbeda dari doktrin agama yang telah disepakati. Kedua, mereka biasanya memiliki pemimpin-pemimpin karismatik yang menuntut ketaatan mutlak. Ketiga, memiliki kecenderungan untuk merasa lebih benar dari kelompok lain. Keempat, ”terpanggil” untuk menyelamatkan dunia. Keyakinan mereka, bahwa dengan kelompoknya itu, kehidupan manusia akan selamat (Wilson, 1996: 181-182).
Meski secara religius anggota sekte adalah kelompok luar, dalam mengikuti kesetiaan terhadap pemimpinnya mereka berupaya mencapai level meticulous conformity dengan nilai dan praktik. Karena sifatnya elastis menurt Wilson perkembangan sekte bersifat variatif (Wilson, 1996: 196-197). Dan untuk Lia Eden walaupun menurut anggapan mereka bukanlah sekte, akan tetapi secara normatif dapat diukur sistem peribadatan mereka mirip sebuah sekte dengan tipologi introvesionis, manipulasionis dan thaumaturgical.
Disebut introversionis, karena kelompok mereka berkelompok dan membentuk ghetto sehingga terkesan tertutup dengan lingkungan luar. Sementara disebut manipulasionis karena gerakannya sudah tidak lagi berakar pada tradisi agama tertentu, bahkan boleh dibilang jauh dan bukan lagi tafsir dari suatu tradisi agama. Model thaumaturgical bisa dinisbatkan kepada mereka, sebab kelompok Lia Eden merupakan dari gerakan pemahaman keagamaan bersifat spiritual. Itulah kelompok Lia Eden sebagaimana pemahaman sekte menurut Wilson di atas.
Sudah tahu salah mengapa tetap diikuti, anekdot seperti itu seakan-akan menyindir perasaan kita selaku masyarakat gemenschaaft, yaitu masyarakat agraris yang masih menyelesaikan persoalan-persoalan kekinian diselesaikan dengan pola pemikiran rasional dan irrasional, disekitar masyarakat kita lebih percaya petuah mbah Dukun keramat untuk mengusir roh jahat yang ada dalam perut si anak dari pada ke Dokter untuk mengobati penyakit lambung. Ironis tapi itu lah fakta. Aneh tapi nyata.
9
B. IMAM MAHDI MENURUT AJARAN ISLAM
Hasil riset doktoral Marzani Anwar (Peneliti Utama Bidang Agama dan Kemasyarakatan pada Balai Litbang Agama Jakarta) terhadap ritual penyucian komunitas Eden, riset kualitatif yang mengangkat judul “Ritual penyucian pada Komunitas Eden”mengatakan dalam proses penyucian, calon peserta menyadari sendiri banyak dosa kepada manusia, alam semesta dan kepada Tuhan. Mereka melakukan pengakuan dosa dituntun Abdul Rahman selaku Imam Mahdi, menyebutkan dosa-dosanya dan berjanji tidak melakukan dosa lagi. Diahadapan majelis penyucian, mereka duduk bersila di atas altar putih diruangan penyucian, yang ditaburi hiasan pernak-pernik melambangkan keindahan dan kebersihan . Selesai peserta mengucap sumpah, Lia Eden memberikan pesan moral yang isinya berkisar pentingnya pertaubatan, kepasrahan dan keikhlasan meniti jalan Tuhan.
Prosesi pertaubatan di atas bila kita kembali mengingat bagaimana Umar Ibnu Khatab masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an yang dibacakan oleh adiknya Waraqah, Umar pun langsung tersayat hatinya, dituntun oleh Rosululloh dan dihadapan para sahabat Rosul, Umar pun membaiat dirinya mengucapkan dua kalimah syahadat, kemudian dengan penuh keberanian di Pasar dengan lantang ia meneriakkan untuk membela Rosululloh dan panji-panji Islam.
Tidak ada Imam Mahdi, dikarenakan Imam Mahdi yang dalam hadits shoheh adalah Nabi Isa yang melanjutkan risalah Rosul juga tidak mengklaim mengikuti komunitas Eden atau pengikut Salamullah. Kalau Lia Eden menugaskan Abdul Rahman sebagai Nabi Isa, kemudian Ahmadiyah mempunyai keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi. Apa Allah keliru dalam mengutus risalah kenabian Isa pada akhir zaman, sehingga ada beberapa nama Imam mahdi, sebaiknya perlu kita kritisi bersama-sama.
Kemudian dalam Islam sahabat Rosul kala itu belum terdidik, berbeda dengan komunitas Eden, ada yang berfrofesi sebagai dosen, wirausaha, PNS dan sebagainya, jelas mereka merupakan masyarakat terdidik yang seharusnya dalam amal ibadah pun mereka sudah tidak meragukan lagi kerasulan Nabi Muhammad SAW bahkan kita selaku muslim tetap meyakini bahwa sholat kita mengikuti perintah Rosul dan sesungguhnya sholatku, hidupku dan matiku semata-mata hanya untuk Allah, karena kita menyakini betul bahwa Allah SWT yang dapat menyelamatkan hidup kita diakhirat kelak.
Do'a Iftitah
Do'a Iftitah 01
أللَّهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
Alloh Maha Besar dengan segala kebesarannya. Segala puji bagi Alloh. Maha Suci Alloh dipagi dan petang hari
(HR. An-Nasa'iy II/125)
10
Do'a Iftitah 02
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ.
Kuhadapkan jiwa ragaku pada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan mengakui kebenaran serta berserah diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang yang musyrik
إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ،
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Alloh Tuhan semesta alam
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ.
tiada sekutu bagiNya karena dengan itu aku diperintah. Dan ketahuilah sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim
رواه والبيهقى
( الأذكار ص42 )
(HR. Al-Baihaqy II/8)
lihat kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 42
Dengan demikian kita mempunyai keyakinan لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ.kita sebagai muslim berserah diri, pasrah dan tunduk kepada perintah Allah SWT dan kita pun siap untuk ta’at atas perintah yang Allah berikan kepada kita. Tiada sekutu bagi-Nya, tidak sesuatu pun yang dapat menyamainya.
•
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Ketaatan kita selaku muslim tidak hanya kepada Allah SWT saja tetapi mutlak pula secara ihkhlas kita harus meyakini dan mengamalkan untuk ta’at kepada Rosul Allah Muhammad SAW.
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
11
BAB V
LIA EDEN DALAM PERSFEKTIF TEOLOGI
A. PENGEMBARAAN MENCARI KEBENARAN HAKIKI
Jika kita ingat kontemplasi yang dilakukan oleh Rosululloh di Gua Hira, adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh Muhammad untuk dapat mencari solusi dari persoalan zaman jahiliyyah yang terkungkung oleh kemusyrikan dan kemaksiatan yang sudah berakar dan sangat sulit untuk disembuhkan keyakinannnya, karena sudah mentradisi secara turun temurun. Demikian pula apa yang dilakukan oleh Ahmad Musaddeq dan Lia Eden, jahiliyyah di abad millenium ini sudah sangat mengkhawatirkan sehingga suku-suku Inca dan Aztex di Amerika pun meramalkan dalam kalender kuno nya bahwa tahun 2012 ini akan kiamat.
Kalau zaman Rosul bila suatu kaum musyrik kepada Allah, oleh Allah SWT langsung dimusnahkan agar mereka meyakini bahwa لا إله إلا الله Tiada Tuhan selain Allah, akan tetapi dengan penuh kasih sayang walaupun sudah ditawarkan oleh Malaikat Jibril, dengan penuh kearifan Nabi Muhammad SAW menolak untuk diturunkan adzab kepada ummat nya. Ia menganggap dikarenakan kaum kuffar Quraisy pada waktu itu dikarenakan belum faham Agama Islam.
Dan kalau kita feed back perjalanan Nabi Ibrahim, saat mencari Tuhan yang abadi, namun semuanya fatamorgana dan kamuflase belaka, baik itu gunung, bulan maupun matahari, karena timbul tenggelam dan fana. Maka dibalik itu semua ada yang menciptakan dari suat Dzat yang bersifat kekal, Dia lah Allah SWT. Allah SWT adalah suatu Dzat yang wajib kita sembah, suatu Dzat yang wajib kita patuhi dan jauhi segala rintangannya.
Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan kepada kita menyembah Allah SWT dan kepada Rosul-Nya. Diantaranya, Q.S. an-Nahl:36.
• • •
36. Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
12
ما أرسلنا إليكم من الرسالة. ويعني بقوله( المُبِينُ) : الذي يبين عن معناه لمن أبلغه، ويفهمه من أرسل إليه.
القول في تأويل قوله تعالى : { وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (36) }
Apa yang kita mengirimkan pesan. Ini berarti mengatakan (ditampilkan), yang menunjukkan sarana bagi mereka yang mengatakan kepada dia, lalu mengirimkan dia untuk mengerti.
Katakanlah dalam menafsirkan ayat: Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Dari ayat di atas kita pelajari bahwasannya Rosul itu di utus oleh Allah untuk menyembah kepada Allah dan menjauhi thagut, Hal ini berarti sebagaimana dalam tafsir Ath-Thobari bahwa Allah berpesan kepada kita semua maksudnya jangan sampai terpedaya oleh tipu muslihat syetan.
B. TIADA TUHAN SELAIN ALLAH MUHAMMAD UTUSAN ALLAH
Syetan akan selalu menggoda manusia sampai akhir kiamat, jangankan ketika kita tersadar, pada saat sedang tidur, syetan sengaja menginformasikan kabar buruk dalam mimpi-mimpi ketika kita terlelap tidur, begitu pula dengan Lia Eden, ia mengaku bahwasannya Jibril suka menyampaikan wahyu kepadanya untuk diamalkan kepada komunitasnya, bila ia mempunyai keyakinan tersendiri dan keluar dari agama Islam jelas hukum nya murtad, karena sudah tidak mengakui lagi agama tauhid yang hanya mengakui Allah itu satu, tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah SWT.
Allah SWT memang disifati kata wahid antara lain dalam firmannya :
163. Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Sementara ulama berpendapat bahwa kata wahid pada ayat al-Baqarah itu, menunjuk kepada keesaan Dzat-Nya disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya, bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuat, Maha Tahu dan sebagainya, sedang kata Ahad seperti dalam surah yang ditafsirkan ini, mengacu kepada keesaan Dzat-Nya saja, tanpa memperhatikan keragaman sifat-sifat tersebut.
Allah SWT itu Esa, tidak ada Tuhan selain Allah, maka dengan demikian apabila Lia Eden mau bertobat dan kembali memeluk agama Tauhid yaitu agama Islam, maka pintu surga masih terbuka untuk Lia Eden dan pengikutnya.
13
BAB VI
PENUTUP
C. KESIMPULAN
1. Lia Eden bukan lah Nabi/Rosul dikarenakan Nabi/Rosul terakhir adalah Muhammad
2. Khotaman Nabiyyin artinya cincin/stempel kenabian dan Nabi Muhammad sebagai Rosul penutup, setelah Nabi Muhammad tidak ada lagi Nabi/Rosul
3. Ajaran Lia Eden adalah sesat, untuk itu setuju dengan tindakan hukum Pemerintah Republik Indonesia terhadap Lia Eden
4. Meminta kepada para alim ulama, untuk dapat menyadarkan Lia Eden dan komunitas nya agar kembali ajaran yang benar sesuai dengan agama samawi yang di anut sebelumnya.
5. Nabi Isa atau al-Masih, atau Imam Mahdi oleh Allah SWT belum diturunkan ke alam dunia untuk meneruskan risalah Nabi Muhammad
6. Lia Eden bukanlah agama akan tetapi semacam aliran kepercayaan atau pun termasuk ke dalam sekte hal ini berarti, Lia Eden dan pengikutnya jangan mengatasnamakan agama akan tetapi bagian dari kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang berfahamkan polytheisme, animisme dan dinamisme, yang mempercayai roh halus sebagai kekuatan gaib yang dapat dijadikan kepercayaan ritualisme dan sinkretisme oleh sekelompok orang termasuk didalamnya Lia Eden dan pengikutnya.
D. SARAN-SARAN
1. Kepada Pemerintah Indonesia meminta tindakan hukum yang tegas dan tuntas terhadap orang/penganut faham Nabi palsu.
2. Kepada alim ulama untuk dapat memberikan pencerahan dalam berdakwah sehingga ummat memahami agama tidak berputar-putar masalah fiqih semata akan tetapi dapat memahami Tauhid, Aqidah Akhlaq, Sejarah kebudayaan Islam dan lain sebagainya agar masyarakat tertarik untuk terus-menerus mempelajari Islam.
14
DAFTAR PUSTAKA
1.Wikipedia bahasa Indonesia, Charles Darwin,”The Origin of Species, ( Britania
Raya,John Murray,1859)
2.http://superpedia.rumahilmuindonesia.net/wiki/Tafsir_Ibnu_Katsir_Surah_Al_Baqarah
_ayat_30
3.Asy-Syamil al-Qur’an, DEPAG RI, Distributed by : SYGMA, 2007
4.Bloggerized, Forum Murtadin Indonesia, Mantan Muslim, 2011
5.Bintang Asy-Syura's Blog, Tafsir Al-Anbiya Ayat 7, Juni 2012
6.Apologetics Index (2006). Lia treads a hazardous path from dried flower arrangement
to Eden dari
www.religionnewsblog.com
7.wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia Bebas, Halaman ini terakhir diubah pada
21.34, 22 Juni 2012
8.Ahmadiyah Mieno Wuna Wngkoliwuno, 30 Oktober 2009 pada pukul 12:48
9.Al-Maktabah Asymilah, Tafsir Ath-Thobari, Bab 36, Juz 17, Hal 201
10.M.Quraisy Syhiba, Tafsir al-Misbah, Bab kelompok 1 ayat 1 hal 610, tahun 2003
III
Jumat, 23 November 2012
LIA EDEN DALAM PERSFEKTIF TEOLOGI MAKALAH DIBUAT SEBAGAI SALAH SATU SYARAT MENGIKUTI UAS MATA KULIAH PENDEKATAN STUDI ISLAM DOSEN : Dr. ILMAN NAFIA,M.Ag. Disusun oleh : Oleh : Asep Yusup Zaeni,S.Ag. NIM : 14114310029 PAI/SMT I INSTITUT AGAM ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON 2012 KATA PENGANTAR Seraya memanjatkan puji syukur kehadirat Ilahy Rabby, Al-hamdulillah makalah dengan judul “Lia Eden dalam persfektif Teologis” dapat kami selesaikan pada waktu Ujian Awal Semester I prodi PAI di IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2012. Dalam kesempatan ini, kami sampaikan ucapan terima kasih, kepada : 1. Ayah dan Ibunda tercinta atas do’a, motivasi dan wawasan keIslaman dengan nilai-nilai fundamental dan tradisional agar ananda tercinta tetap ikhlas dalam menuntut ilmu dengan imbalan surga fisabilillah di kampung akherat kelak. 2. Anak dan istri tersayang yang selalu mendorong dan memberikan dana talangan transport serta menyelesaikan administrasi keuangan, sehingga al-hamdulillah walaupun terasa letih intelektual, mental dan fisik akan tetapi kelembutan dan kasih sayang yang tulus dapat menggelorakan semangat untuk dapat menyelesaikan study. 3. Rekan-rekan senasib dan sepenanggungan yang sama-sama berharap bertambah wawasan keislaman dan dapat menyelesaikan tugas-tugas makalah dari dosen, semoga Allah meridloi jejak langkah kita. Di awali dari sebuah tawaran dari Dr. Ilman Nafia,M.Ag. untuk membuat makalah tentang Lia Eden dalam Persfektif Teologis, maka saya mencoba menelaah literatur tentang Lia Eden, baik melalui buku-buku di perpustakaan, koran, you tube Lia Eden serta artikel untuk dapat melengkapi penulisan makalah sehingga sesuai denggan apa yang diharapkan. Menulis tentang Eden, saya berusaha bersikap adil baik dari pandangan Hak Asasi Manusia maupun dari sisi teologis, dikarenakan dalam pendekatan HAM secara individu manusia bebas untuk memilih agama dan kepercayaannnya masing-masing, tentu saja ajaran dan peribadatan yang dilakukan oleh Lia Eden tidak terdapat pelanggaran dan hal itu dibenarkan oleh Undang-undang Dasar 1945. Akan tetapi bila dilihat dari kacamata teologi, Islam memberikan satu justifikasi yang tidak dapat diganggu gugat bahwa khotaman nabiyyin itu adalah Nabi Muhammad sebagai Rosul dan utusan terakhir. Polemik antara ummat beragama termasuk didalamnya Islam dengan Lia Eden semakin menguat, manakala Lia Eden membuat fatwa untuk membubarkan agama Islam. Hal ini merupakan suatu fatwa hukum yang bertentangan dengan negara dikarenakan di negara Indonesia Islam merupakan salah satu agama yang di akui oleh Pemerintah. Demikian penulis dalam mengantarkan sebuah pengantar, mudah-mudahan dapat dimengerti oleh semua fihak. Cirebon, Juli 2012 Penulis I DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.....................................................................................................I DAFTAR ISI................................................................................................................. II BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH............................................................ i B. RUMUSAN MASALAH .....................................................................viii C. TUJUAN PENULISAN .......................................................................viii D. MANFAAT PENULISAN.....................................................................viii BAB II BIOGRAFI SINGKAT LIA EDEN A. BIOGRAFI LIA EDEN....................................................................................1 B. PENGAKUAN BERTEMU MALAIKAT JIBRIL................................................12 BAB II I ROSULULLOH SEBAGAI KHATAMAN NABIYYIN A. PENGERTIAN KHATAMAN NABIYYIN..........................................................5 B. MULTI TAFSIR KHATAMAN NABIYYIN........................................................6 BAB IV SISTIM PERIBADATAN LIA EDEN A. KOMUNITAS LIA EDEN MIRIP DENGAN SEKTE...........................................9 B. IMAM MAHDI MENURUT AJARAN ISLAM................................................10 BAB V LIA EDEN DALAM PERSFEKTIF TEOLOGI A. PENGEMBARAAN MENCARI KEBENARAN................................................12 B. TIADA TUHAN SELAIN ALLAH MUHAMMAD UTUSAN ALLAH..................13 BAB VI PENUTUP A. KESIMPULAN ...................................................................................14 B. SARAN-SARAN..................................................................................14 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................III II BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Hidup di alam dunia memang tidak ada yang mutlak dan kebenaran tidak bisa bersifat tunggal, semuanya masih relatif dan kebenaran itu masih bersifat nisbi, kita mengenal teori evolusi Charles Darwin, yang mempunyai hipotesis bahwa manusia berasal dari kera, dikarenakan ada kemiripan antara manusia dengan kera. Teori evolusi ini dipelopori oleh seorang ahli zoologi bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia. Menurutnya manusia sekarang ini adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu ajaran(pengertian) bahwa manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna.Tetapi dalam hal ini Darwin sendiri kebingungan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Walaupun pernyataan Darwin dalam bukunya yang berjudul "The Origin of Species" dapat dikatakan sukses besar karena membahas masalah yang menyangkut asal usul manusia, namun hal ini hanyalah bersifat dugaan belaka. Tentu saja teori dari Charles Darwin itu di tolak oleh Ummat Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, tentang surat al-Baqarah,2:30, yaitu : i • 30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Tafsir Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul A'la, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman : "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat." Maksudnya, hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu. "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Yakni, suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dialah yang menjadikankamu sebagai khalifah-khalifah di bumi." (Faathir ayat 39) Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya." Seolah-olah Allah memberitahukan kepada para malaikat bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya. Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya?" Ibnu Jarir berkata, "Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?" ii Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, "Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan diantara mereka para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali. Akan tetapi walau pun dibantah melalui kitab suci al-Qur’an bahwa manusia pertama adalah Adam dan diciptakan dari tanah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hijir,15:26 yang berbunyi : • 26. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dalam Qur’an surat Ar-Rahman,55 : 14, berbunyi 14. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, Kemudian dalam surat Shaad,38:71-72 yang berbunyi : 71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". 72. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". iii Tetap saja rupanya, karena ilmu pengetahuan Alam dengan sub mata pelajaran Biologi diajarkan diseluruh dunia, diantaranya tentang teori evolusi Charles Darwin, sedangkan mata pelaran PAI tentang manusia diciptakan dari tanah dan manusia pertama adalah Adam AS, hanya diajarkan untuk ummat Islam di sekolah, di madrasah, di majlis ta’lim, di mesjid artinya bersifat parsial dan sektarian, maka dunia akademisi lebih mempopulerkan hypotesa charles Darwin daripada kebenaran mutlak dari kitab suci termasuk didalamnya al-Qur’an. Lalu bagaimanakah dengan Lia Eden, sekalipun sedang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan, namun wahyu, ajaran dan peribadatan Lia eden sampai sekarang masih tetap lestari, hal ini merupakan suatu pekerjaan bagi bangsa Indonesia dan ummat Islam pada khususnya dikarenakan komunitas Lia Eden pun mendapatkan pembelaan dari Forum Murtadin di Indonesia, yang mencoba menetralisir pola gerakan dan peran Lia Eden dengan tujuan menolak segala bentuk arabisasi demi tegaknya Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Inilah diantaranya pembelaan yang dilakukan oleh Forum Murtadin Indonesia yang saya ambil dari blogger mereka : LIA EDEN MUHAMMAD Lia Aminuddin atau lebih dikenal sebagai Lia Eden (lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 21 Agustus 1947) adalah pemimpin kelompok kepercayaan bernama Kaum Eden yang kontroversial. Ibunya bernama Zainab, dan bapaknya bernama Abdul Ghaffar Gustaman, seorang pedagang dan pengkhotbah Islam aliran Muhammadiyah. Pada umur 19 tahun, Lia menikah dengan Aminuddin Day, seorang dosen di Universitas Indonesia dan dikaruniai empat orang anak. Pada awalnya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang menempuh pendidikan hanya sampai jenjang SMA dan sebelumnya mempunyai profesi sebagai perangkai bunga bahkan pernah mempunyai acara tampilan khusus mengenai merangkai bunga di TVRI. Menurut Lia, peristiwa ajaibnya yang pertama adalah sewaktu dia melihat sebuah bola bercahaya kuning berputar di udara dan lenyap sewaktu baru saja ada di atas kepalanya. Hal ini terjadi sewaktu dia sedang bersantai dengan kakak mertuanya di serambi rumahnya di Senin pada 1974. Menurutnya lagi, peristiwa ajaib kedua yang telah megubah prinsip hidupnya berlaku pada malam 27 Oktober 1995 kala dia sedang sholat. Pada masa itu, dia telah merasakan kehadiran pemimpin rohaninya, Habib al-Huda yang mengaku dirinya sebagai Jibril pada waktu itu. Setelah itu Lia Eden mengaku dia menerima bimbingan Malaikat Jibril secara terus menerus sejak 1997 hingga kini. Selama dalam proses pembimbingan itu, ia mengatakan bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik Lia Eden melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas perintah Jibril. Proses penyucian itu menurut ia sangat berat dan tak pernah berhenti hingga kemudian Tuhan memberinya nama Lia Eden sebagai pengganti namanya yang lama. Di dalam penyuciannya, ia mengatakan bahwa Tuhan menyatakan Lia Eden sebagai pasangan Jibril sebagaimana ditulis di dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa dialah yang dinyatakan Tuhan sebagai sosok surgawi-Nya di dunia. Selain menganggap dirinya sebagai menyebarkan wahyu Tuhan dengan perantaraan Jibril, dia juga menganggap dirinya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Dia juga telah mengarang lagu, syair dan juga buku sebanyak 232 halaman berjudul, "Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir" yang ditulis dalam waktu 29 hari. Pada 1998, Lia menyebut dirinya Imam Mahdi yang muncul di dunia sebelum hari kiamat untuk membawa keamanan dan keadilan di dunia. Selain itu, dia juga memanggil dirinya Bunda Maria, ibu dari Yesus Kristus. Lia juga mengatakan bahwa anaknya, Ahmad Mukti, adalah Yesus Kristus. Agama yang dibawa oleh Lia ini berhasil mendapat kurang lebih 100 penganut pada awal diajarkannya. Penganut agama ini terdiri dari para pakar budaya, golongan cendekiawan, artis musik, drama dan juga pelajar. Mereka semua dibaptis sebagai pengikut agama Salamullah. Karena Lia merupakan seorang penulis dan pendakwah yang handal, maka ia bisa meyakinkan orang mengenai kebenaran dakwahnya. Pada bulan Desember 1997, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melarang perkumpulan Salamullah ini karena ajarannya dianggap telah menyelewengkan kebenaran mengenai ajaran Islam. Kumpulan ini lalu membalas balik dengan mengeluarkan "Undang-undang Jibril" (Gabriel's edict) yang mengutuk MUI karena menganggap MUI berlaku tidak adil dan telah menghakimi mereka dengan sewenang-wenang. Kumpulan Salamullah ini juga terkenal karena serangannya terhadap kepercayaan masyarakat Jawa, mengenai mitos Nyi Roro Kidul yang didewakan sebagai Ratu Laut Selatan. Pada tahun 2000, agama Salamullah ini diresmikan oleh pengikut-pengikutnya sebagai sebuah agama baru. Agama Salamullah mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir tetapi juga mempercayai bahwa pembawa kepercayaan yang lain seperti Buddha Gautama, Yesus Kristus, dan Kwan Im, dewi pembawa rahmat yang disembah orang Tionghoa, akan muncul kembali di dunia. Sejak 2003, kumpulan Salamullah ini memegang kepercayaan bahwa setiap agama adalah benar adanya. Kumpulan yang diketuai Lia Eden ini kini dikenal sebagai Kaum Eden. Kotham atau yang lebih dikenal dengan Muhammad (lahir di Mekah, pada 20 April atau 29 Agustus, 570) adalah pemimpin kelompok kepercayaan bernama Islam yang kontroversial. Ibunya bernama Aminah, dan bapaknya bernama Abdullah, seorang Kuncen Kabah (penjaga kabah) yang mendapatkan penghidupan dari orang2 yang menyembah patung2 di Kabah Mekah. Pada umur 25 tahun, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang janda yang merupakan pengusaha wanita terkaya di Mekah. Pada awalnya dia adalah seorang pemuda miskin yang tak punya apa2. Yang kemudian bekerja sebagai pembantu di bisnis Khadijah. Kehidupan Muhammad berubah setelah sang majikan mengangkat dirinya sebagai suami. iv Menurut Muhammad, peristiwa ajaibnya yang pertama adalah sewaktu ia mengaku ada dua orang berpakaian putih datang padanya dengan baskom emas penuh salju, kemudian membelah tubuhnya dan mengambil gumpalan hitam lalu mencuci jantung dan tubuhnya dengan salju. Menurutnya lagi, peristiwa ajaib yang sangat berpengaruh dalam merubah prinsip hidupnya berlaku di suatu malam dibulan Ramadhan ditahun 610 kala dia sedang bersemedi di Gua Hira. Pada masa itu, dia mengaku bertemu dengan makluk gaib, yang kemudian menginjak dadanya hinggak sesak sebanyak tiga kali. Karena begitu takutnya, Muhammad lari kerumah dan menemui istri serta Waraqah, saudara sepupunya. Waraqahlah yang kemudian mengatakan bahwa makluk gaib itu adalah Malaikat Jibril. Selama dalam proses pembimbingan itu, ia mengatakan bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik Muhammad melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas perintah Jibril. Proses penyucian itu menurut ia sangat berat dan tak pernah berhenti hingga kemudian Allah memberinya gelar sebagai utusan dan rasul Allah. Di dalam penyuciannya, ia mengatakan bahwa Allah menyatakan Muhammad sebagai Nabi sebagaimana ditulis di dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa dialah yang dinyatakan Allah sebagai pembimbing manusia dan para jin ke jalan yang benar. v Selain menganggap dirinya sebagai menyebarkan wahyu Tuhan dengan perantaraan Jibril, dia juga menganggap dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan mujizat. Dia juga telah mengarang buku yang merupakan versi Arab dari beberapa kitab seperti Taurat, dan Injil Nestorian. Buku ini kemudian disebut dengan Al Quran, diselesaikan dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Muhammad juga menyebut dirinya Nabi terakhir yang muncul di dunia sebelum hari kiamat untuk menjadi suri teladan dan rahmat bagi semesta alam. Selain itu, dia juga menganggap nabi2 Yahudi seperti Musa, Idris dan Yusuf, sebagai saudaranya. Muhammad juga mengatakan Yesus Kristus adalah hakim yang akan mengadili manusia pada saat kiamat nanti. Agama yang dibawa oleh Muhammad ini hanya berhasil mendapat kurang lebih 70 penganut selama 13 tahun pada awal diajarkannya di Mekah. Penganut agama ini terdiri dari para budak, golongan rendahan, yang menggantungkan hidupnya pada kekayaan Muhammad. Karena Muhammad merupakan seorang pendakwah yang handal, maka ia bisa meyakinkan orang mengenai kebenaran dakwahnya. vi Kaum penyembah berhala di Mekah telah melarang dan mengucilkan para pengikut Rasulullah ini karena ajarannya dianggap telah mencela dan menghina kepercayaan masyarakat Mekah. Bahkan agama Rasulullah ini mengajarkan untuk membenci ayah, ibu dan saudara2 mereka sendiri jika mereka belum mengikuti Islam. Kumpulan ini kemudian hijrah ke Medinah, lalu membalas balik dengan merampoki para pedagang Mekah yang telah melarang perkumpulan ini. Pengikut Rasulullah ini juga terkenal karena serangannya terhadap kepercayaan Nasrani, mengenai peristiwa kematian dan penyaliban Yesus Kristus, serta konsep ketuhanan yang ada pada diri Yesus. Kumpulan Perampok yang bermarkas di Medinah ini semakin lama semakin besar setelah sukses dalam beberapa perampokan, baik terhadap para pedagang Mekah, ataupun perampokan terhadap masyarakat Yahudi Medinah. Setelah berhasil merampok dan menguasai tanah Arab, kelompok ini melebarkan sayapnya untuk menguasai negara2 tetangganya seperti Iran, Mesir dan Turki. Sejak itu, pengikut Rasulullah memegang kepercayaan bahwa setiap agama adalah salah, dan hanya Islamlah satu2nya agama yang diakui Allah, oleh karenanya siapapun yang tak mau mengakui agama ini harus diperangi. Kepercayaan yang dibawa Muhammad ini kini dikenal sebagai Islam. vii Bagi saya pribadi, dan Insya Allah Ummat Islam khususnya di Indonesia tidak setuju dengan tulisan berupa pembelaan dari forum murtadin Indonesia, dikarenakan utusan Allah yang terakhir kalinya sebagai nabi penutup tiada lain dan hanya satu-satunya yaitu Nabi/Rosul Muhammad SAW. Namun rupanya seperti Ahmad Musaddeq yang mengaku dirinya sebagai seorang Nabi, wacana tentang Nabi masih dapat diperdebatkan dikarenakan khataman nabiyyin menurut faham Ahmad Musaddeq dan juga Ahmadiyyah bukan penutup para nabi akan tetapi dapat diartikan cincin para nabi. Agar lebih detail mengupas tentang Lia eden, saya akan mencoba menjelaskan sebagaimana muslim pada umumnya melalui makalah dengan judul “Lia Eden dalam Persfektif Teologi”mulai dari biografi, ajaran dan peribadatan Lia eden kemudian bantahan-bantahan dari penulis tentang kenabian Lia Eden. B. RUMUSAN MASALAH Adapun perumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Siapakah Lia eden itu? 2. Bagaiamana pengertian khataman nabiyyin itu ? 3. Bagaimana faham dan peribadatan Lia Eden ? 4. Bagaiamana Lia Eden dalam Persfektif Teologi ? C. TUJUAN PENULISAN Sedangkan tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Mengenal biografi singkat Lia Eden 2. Mencoba menelusuri pengertian khataman nabiyyin 3. Mengetahui faham dan peribadatan Lia Eden. 4. Mengetahui tinjauan Lia Eden dalam persfektif Teologi D. MANFA’AT PENULISAN Dan manfaat dalam penulisan makalah ini, yaitu : 1. Dapat mempelajari biografi singkat Lia Eden 2. Dapat mengetahui pengertian khataman nabiyyin 3. Dapat memeahami faham dan peribadatan Lia eden 4. Dapat memahami tinjauan Lia Eden dalam Persfektif Teologi viii BAB II BIOGRAFI SINGKAT LIA EDEN A. BIOGRAFI LIA EDEN Sedikit sekali literatur tentang riwayat hidup Lia Eden, bila Rosululloh kita mengetahui riwayat hidupnya semenjak bayi hingga wafat, maka Lia Aminuddin (baca; Lia Eden) dikenal oleh masyarakat secara luas setelah ia dewasa. Ada perbedaan jenis kelamin antara Rosul yang diutus oleh Rosul sejak zaman nabi Adam sampai dengan khataman Nabiyyin Muhammad SAW dengan Lia Eden yang berjenis kelamin Perempuan. Dan hal ini sebagaimana kita ketahui mufassirin menjelaskan sebagaimana bunyi firman Allah dalam al-Qur’an, surat al-anbiyya,21:7, yaitu : 7. Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui. Di dalam tafsir Al-Jami” li Ahkamil Quran karya Al-Imam Al-Qurtubi dijelaskan bahwa firman Allah SWT, “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka“, sebagai jawaban atas argumentasi para orang kafir yang meragukan kenabian Muhammad SAW. Mereka mencemooh bahwa Muhammad SAW itu sama saja dengan manusia biasa. Tidak ada kelebihan apapun, sehingga tidak perlu diikuti ajarannya. Maka Allah SWT turunkan ayat ini yang membandingkan antara nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu. Di mana para nabi terdahulu itu sama saja dengan beliau SAW, sama-sama manusia biasa. Hanya saja mereka mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Disebutkan ”beberapa laki-laki” untuk menunjukkan bahwa para nabi terdahulu tidak lain juga manusia, sebagaimana Muhammad SAW juga manusia. Tapi yang membedakan, para nabi terdahulu dan juga Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah. Ayat ini menegaskan bahwa nabi itu bukan malaikat, karena disebutkan dengan kata ”laki-laki, yang menunjukkan bahwa mereka adalah dari jenis manusia. 1 Firman-Nya: Fas”alu ahlaz-zikri (tanyakan kepada ahli zikri). Apabila para orang kafir itu masih belum bisa menerima argumentasi ini, silahkan saja mereka bertanya kepada ahluz zikri. Sufyan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ahlaz-zikri adalahpara ahli Taurat dan Injil yang telah beriman kepada nabi Muhammad SAW (sudah masuk Islam). Disebut mereka itu ahluz-zikri (makna zikr adalah mengingat), karena mereka paham dan mengerti betul kisah para nabi terdahulu yang belum dikenal oleh bangsa Arab. Dan para kafir Quraisy memang terbiasa bertanya kepada ahli Taurat dan Injil tentang nab-nabi terdahulu. Di sini Allah menegaskan kembali untuk bertanya kepada mereka bila belum tahu. Sedangkan untuk informasi Lia Eden kami peroleh data dari wikipedia bahasa Indonesai secara singkat biografinya adalah sebagai berikut : Lia Aminuddin atau lebih dikenal sebagai Lia Eden (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 21 Agustus 1947; umur 64 tahun) adalah pemimpin kelompok kepercayaan bernama Kaum Eden. Ibunya bernama Zainab, dan bapaknya bernama Abdul Ghaffar Gustaman, seorang pedagang dan pengkhutbah Islam aliran Muhammadiyah. Pada umur 19 tahun, Lia menikah dengan Aminuddin Day, seorang dosen di Universitas Indonesia dan dikaruniai empat orang anak. Pada awalnya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang menempuh pendidikan hanya sampai jenjang SMA dan sebelumnya mempunyai profesi sebagai perangkai bunga bahkan pernah mempunyai acara tampilan khusus mengenai merangkai bunga di TVRI. B. Pengakuan Bertemu dengan Malaikat Jibril Menurut Lia, peristiwa ajaibnya yang pertama adalah sewaktu dia melihat sebuah bola bercahaya kuning berputar di udara dan lenyap sewaktu baru saja ada di atas kepalanya. Hal ini terjadi sewaktu dia sedang bersama dengan kakak mertuanya di serambi rumahnya di kawasan Senen, Jakarta Pusat pada 1974. Menurutnya lagi, peristiwa ajaib kedua yang telah mengubah prinsip hidupnya berlaku pada malam 27 Oktober 1995 kala dia sedang bersantai. Pada masa itu, dia telah merasakan kehadiran pemimpin rohaninya, Habib al-Huda yang kemudian mengaku dirinya sebagai Jibril pada waktu itu. Setelah itu Lia Eden mengaku dia menerima bimbingan Malaikat Jibril secara terus menerus sejak 1997 hingga kini. 2 Selama dalam proses pembimbingan itu, ia mengatakan bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik Lia Eden melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas perintah Jibril. Proses penyucian itu menurut ia sangat berat dan tak pernah berhenti hingga kemudian Tuhan memberinya nama Lia Eden sebagai pengganti namanya yang lama. Di dalam penyuciannya, ia mengatakan bahwa Tuhan menyatakan Lia Eden sebagai pasangan Jibril sebagaimana ditulis di dalam kitab-kitab suci. Dan ia mengatakan bahwa dialah yang dinyatakan Tuhan sebagai sosok surgawi-Nya di dunia. Bila kita amati dari pengakuan Lia Eden tentang menerima wahyu, tentu hal ini merupakan pengakuan yang bersifat kontroversial, dan marilah kita bahas tentang wahyu ini, tentu saja dalam persfektif Islam. Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul. Etimologi Etimologinya berasal dari kata kerja bahasa Arab وَحَى (waḥā) yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi. Dalam agama Islam Dalam syariat Islam, wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Kata "wahyu" adalah kata benda, dan bentuk kata kerjanya adalah awha-yuhi, arti kata wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Selanjutnya dijelaskan lebih dalam bahwa pengertian makna wahyu meluas menjadi beberapa makna, diantaranya adalah sebagai: • Perintah • Isyarat, seperti yang terjadi pada kisah Zakaria • 10. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat". 3 11. Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. • Ilham secara kodrati dan insting Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah at-Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak. Penerima wahyu • Malaikat[1] • Nabi dan rasul[2] • Orang-orang beriman: o Hawa istri Adam o Sarah istri Ibrahim o Dzul Qarnain[3] o Yukabad ibunda Musa,[4] pendapat lain mengatakan namanya adalah Yuhanaz Bilzal.[5] o Asiyah ibunda angkat Musa o Maryam ibunda dari Isa[6] o Pengikut Isa[7] • Makhluk lainnya: o Hewan[8] o Langit ketujuh[9] o Bumi[10] Dari pengertian di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa wahyu hanya diberikan kepada Nabi/Rosul, orang-orang beriman dan makhluk lainnya. Sedangkan untuk Lia Eden al-Qur’an tidak memberikan informasikan secara tertulis bahwa Lia Eden akan mendapatkan wahyu kenabian dan mendapat tugas sebagai seorang Rasul. Di zaman yang sudah rasional, dengan adanya pengakuan seperti Lia Eden, tidak seharusnya terjadi, mengingat presentasi penggunaan akal antara zaman sekarang dengan zaman purba jelas berbeda, bila zaman paleolithicum (zaman batu tua), mesolithicum (zaman pertengahan) dan neolithicum (zaman batu muda) saat itu manusia membutuhkan nuansa spiritual sehingga muncul kepercayaan animisme dan dinamisme, yang menuhankan roh nenek moyong dan benda-benda yang dianggap keramat. Maka diutuslah Nabi/Rosul sebagai penyelamat aqidah dan tauhid kaum pada waktu itu. Namun bila zaman millenium sekarang ini muncul maka kehidupan manusia dalam mode sudah modern tapi dalam keyakinan mlebihi manusia purba kebodohonnya. 4 BAB III ROSULULLOH SEBAGAI KHOTAMAN NABIYYIN A. PENGERTIAN KHOTAMAN NABIYYIN Pengakuan Lia Eden bahwa ia telah menerima wahyu, lantas kemudian ia mengaku sebagai seorang Nabi/Rosul tentu saja menimbulkan polemik dalam persfektif hukum positif di Indonesia, dikarenakan penutup para Nabi/Rosul adalah Nabi Muhamad tidak ada lagi sesudahnya. Maka tak heran bila penyelesaian ajaran Lia Eden ditempuh dengan jalur hukum. Baiklah agar kita dapat meyakini bahwa Nabi Muhammad sebagai Rosul yang terakhir di utus oleh Allah SWT dan lantas kemudian timbul silang pendapat dan ada pendapat berbeda dengan fenomena munculnya berbagai Nabi palsu, kita bahas secara komprehensif. Saya mencoba mendalami literatur dari Ahmadiyah, dari beberapa blogger tentang khataman nabiyyin menurut pemahaman atau pun keyakinan mereka, ternyata ada pemahaman keilmuan yang keliru pengertian dari khataman nabiyyin itu, sehingga menimbulkan sebuah komunitas baru dengan kelompok keagamaan yang mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi bukan pembawa syaria’at, Imam Mahdi sebagai pertanda akhir zaman, dengan kitab suci Tadzkirah. Namun perlu di ingat dalam makalah ini saya bukan menelaah tentang Ahmadiyah, akan tetapi Lia Eden yang mempunyai persfektif yang sama dikarenakan di abad modern sekarang ini masih ada saja muncul nabi-nabi baru. Menurut versi Ahmadiyah berawal dari turunnya Q.S. al-ahzab,33:40, yaitu : • • 40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[1223]., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. [1223] Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, Karena itu janda aZaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w. Asbab an-Nuzul dari Q.S. al-ahzab,33:40 merupakan sebuah koreksi dari Allah SWT terhadap kebiasaan kaum kuffar Quraisy kala itu, yang mempunyai tradisi secara turun temurun bahwa anak tiri atau anak angkat statusnya seperti anak sendiri. Adanya justifikasi dari Allah SWT yang menghalalkan pernikahan yang dilakukan oleh Rosululloh dengan hadrat Siti Zainab janda dari Zaid, merupakan sebuah kemulyaan dari ajaran Islam, bahwasannya Islam memandang pernikahan itu bukan dari asfek biologis semata yang terpenting tersalurkannya kepuasan Sex masing-masing pasangan. 5 Akan tetapi dari sudut pandang teologi bahwa pernikahan itu merupakan ikatan perkawinan yang syah dari syari’at Islam untuk melakukan hubungan sosial kemasyarakatan, sehingga kedudukan wanita itu dapat lebih terhormat dan ada yang menlindungi selaku khalifah dalam kehidupan berumah tangga. B. MULTI TAFSIR KHATAMAN NABIYYIN Namun yang menjadi masalah dari ayat di atas untuk pemahaman mengenai pernikahan Rosululloh dengan hadrat Siti Zainab antara ummat Islam dan Ummat ahmadiyah terjadi kesepakatan, tetapi untuk bunyi khataman nabiyyin terjadi multi tafsir, menurut klaim dari Ahmadiyah bahwa khataman nabiyyin itu artinya “cincin/stempel kenabian” dan memang Muhammad adalah Nabi/Rosul syari’at yang terakhir sebagai penutup para Rosul. Sedangkan nabi yang ma’rifat masih terus akan bermunculan sampai akhir zaman untuk melanjutkan risalah kenabian yang telah disampaikan oleh Muhammad sebagai Rosul yang terakhir. Sabda Nabi Muhammad saw. kepada Hadhrat Umar r.a. : اِطْمَئِنَّ يَاعُمَرَ فَاِنَّكَ خَاتَمُ الْمُهَاجِرِيْنَ فىِ الْهِجْرَةِ كَمَااَنَا خَتَمُ النَّبِيِّيْنَ فىِ النُّبُوَّةِ. Artinya: “Tenangkanlah hatimu wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah khatam orang-orang yang berhijrah, sebagaimana aku adalah khatam nabi-nabi”. (Kanzul Umal, Juz VI, halaman 178). Sabda Nabi saw. kepada Ali r.a. : اَنَا خَاتَمُ اْلاَنْبِيَاءِ وَاَنْتَ يَاعَلِيُّ خَاتَمُ اْلاَوْلِيَاءِ. Artinya: “Aku adalah khatam nabi-nabi dan engkau wahai Ali khatam wali-wali” (Tafsir Safi dibawah ayat khataman nabiyyin) Perkataan khatam juga berarti cincin. Cincin adalah perhiasan bagi para nabi-nabi. Di sini kita salinkan pendapat ahli tafsir tentang perkataan khatam tadi itu: ) – ص صَارَكَالْخَاتَمِ لَهُمُ الَّذِى يَخْتِمُوْنَ بِهِ ويَتَـزَيَّنُوْنَ بِكَوْنِهِ مِنْهُمْ. (تقسير فتح البيان, جلد Artinya: “Adalah ia (Nabi Muhammad saw.) itu seperti cincin bagi mereka (para nabi-nabi), dan mereka berperhiasan dengannya, karena beliau salah seorang dari golongan mereka”(Tafsir Fathul Bayaan, jilid VII, halaman 286). 6 اَلْخَاتَمُ بِمَعْنىَ الزِّيْنَةِ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْخَاتَمِ الَّذِى هُوَزِيْنَةٌ لِلاَبِسِهِ. (مجمع البحار) Artinya : “Khatam berarti perhiasan berasal dari khatam (cincin) yang menjadi perhiasan bagi pemakainya”. Dari sudut pandang kajian filsafat kebenaran yang terdapat di alam dunia ini memang tidak lah mutlak dan tidak lah bersifat tunggal, akan tetapi relatif dan transenden, hal ini memang wajar, apalagi dilindungi oleh Hak Asasi Manusia dan UU 1945 yang membolehkan adanya kebebasan untuk menyatakan pendapat yang tercantum dalam pasal 27 ayat 1 dan 2, dan Allah SWT sendiri menciptakan lawan, siang malam, pagi sore dan seterusnya. Hal yang wajar menurut anggapan ahmadiyah, atau pun mungkin pula bagi pengikut Ahmad Musaddeq dan juga Lia Eden menurut pengikutnya yang merasa membutuhkan figur ditengah kegalauan zaman kemudian menjadi pengikut setia komunitas sesat yang menurut anggapan mereka menjadi juru penyelamat di muka bumi. Ditambah lagi dengan adanya penafsiran dari Ahmadiyah bahwa jika Ibrahim putra Rosululloh tidak wafat hasil pernikahan Rosul dengan Maria Qibtiyah lantas Rosul bersabda bahwa jika usia nya panjang akan menjadi nabi yang benar pada hal Q.S. al-ahzab,33:40 diturunkan lima tahun sebelumya, berarti ada peluang setelah Rosul wafat untuk menjadi seorang “nabi”. Sungguh merupakan anggapan yang keliru. 1. Umayyah bin Abi Salt dalam Kitab Diwan hal 24 menulis mengenai Khaataman nabiyin : “Dengannya (Rasulullah saw) telah dicap/stempel para nabi sebelum maupun sesudahnya”. 2. Abu Ubaidah (wafat 209 H) ketika mengomentari Khair Al Khawatim dalam Naqa’id ibn Jarir dan Faradzaq tentang rasulullah saw sebagai khaataman nabiyyin : “Nabi saw adalah Khaatam al Anbiya, yaitu sebaik-baik para nabi”. 3. Abu Riyash Ahmad Ibrahim Al Qaisi (wafat 339 H) dalam mengomentari kitab Hasyimiyyat karangan Al Kumait berkata : “Barang siapa mengatakan Khaatim al anbiya, maka ia adalah dengannya para nabi di cap/stempel, dan barang siapa yg mengatakan Khaatam al anbiya, maka ia adalah sebaik-baik para nabi. Dikatakan” Fulan khaatam kaumnya”, yakni ia adalah terbaik dari antara mereka”. 4. Allamah Al Zarqani menulis dlm Syarah Al Mawahib Al Laduniyah Juz III, hal 163, bahwa jika khatam dibaca dengan baris di atas ta sebagaimana tersebut dlm Al Qur’an (al ahzab 40), maka artinya : “sebaik-baik para nabi dlm hal kejadian dan dalam hal akhlak”. 7 5. Imam Mulla Ali al Qari menulis dlm kitabnya Al Maudhu’at hal.59 tentang Khaatam Al Nabiyyin : “Tidak akan datang lagi sembarang nabi yg akan memansukhkan agama Islam dan yg bukan dari umat beliau”. 6. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani r.a. dalam Kitab ” Al Insanul Kamil” cetakan Mesir, bab 33, hal 76 menulis : “Kenabian yg mengandung sya’riat baru sudah putus. Nabi Muhammad adalah “Khaataman nabiyyin”, ialah karena beliau telah membawa syari’at yg sudah sempurna dan tiada ada seorang Nabi pun dahulunya yg membawa syariat yg begitu sempurna”. 7. Ibnu Khuldun telah menulis dalam mukadimah tarikh-nya hal 271 : “Bahwa ulama-ulama Tasawuf mengartikan “Khaataman Nabiyyin” begini; yakni Nabi yg sudah mendapat kenabian yg sempurna dalam segala hal”. 8. Syekh Abdul Qadir Al Karostistani r.a. menulis : ” Adanya beliau saw Khaataman nabiyyin maknanya ialah sesudah beliau tidak akan ada nabi diutus dengan membawa syariat lain”. (Taqribul Muram, jld 2, hal 233). Hal ini sebagaimana ditulis dalam blogger Jamluddin Feeli . Dari pendapat di atas dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa Rosululloh sebetulnya oleh pengikut ahmadiyah sendiri di akui sebagai Rosul yang terakhir hanya menurut anggapan mereka disepakati dalam hal syari’at, maka fenomena munculnya Lia Eden dan Ahmad Musaddeq itu adalah sebuah kebenaran yang harus pula diakui oleh ummat Islam diantaranya. Pertanyaannya adakah nabi ma’rifat? Dikarenakan Mirza Gulam Ahmad juga mempunyai kitab suci yaitu tadzkirah, dan Lia Eden sendiri dengan duduk disinggasananya kerajaannya mengaku menerima wahyu dari Tuhan atas perantara Malaikat Jibril dan membentuk sebuh kelompok ritual terbaru yaitu Salamullah. Jadi bukan untuk melanjutkan tugas kenabian Rosululloh seperti yang diperankan oleh Khulafaur Rasyidin, Tabiat tabi’in, waliyullah dan para alim ulama, anehnya malah mempunyai fatwa untuk membubarkan agama Islam. Firaun Mesir sekalipun selaku Raja, hanya mampu mengusir dan membenci Nabiyullah Musa As dari tanah Mesir, tapi tetap mempunyai rasa takut akan kebenaran agama yang diemban risalahnya oleh Nabiyullah Musa As. Lia Eden malah lebih berani dengan fatwa nya yang jelas menyinggung perasaan ummat Islam. 8 BAB IV SISTIM PERIBADATAN LIA EDEN A. KOMUNITAS LIA EDEN MIRIP DENGAN SEKTE Tak jelas, sistim peribadatan Lia Eden itu, hanya yang kita ketahui, semacam upacara ritual keagamaan seakan-akan atas perintah Tuhan mereka, sebagai salah satu cara penghambaan manusia terhadap al-Khaliq. Dalam ajaran Islam ibadah dibagi dua mahdloh dan ghoiru mahdloh, ada sistem muamalah dan ada pula sistem syari’ah, ada urusan keduniaan dan ada pula urusan ke akhiratan. Bila urusan keduniaan “antum a’lamu bi umuriddunyakum” sedangkan untuk urusan akhirat harus “Atiulloha wa Athiurrosula” sehingga kita mesti “Sami’na wa ato’na”. Sedangkan untuk Lia Eden mirip sebuah sekte. Dalam Religion in Secular Society, Bryan R Wilson menuturkan bahwa sekte terepresentasikan dalam strata partikular, yang mana para anggota kelompoknya merasa tidak diakomodasi secara keagamaan dan barangkali secara sosial . Menurut wilson, ada empat ciri umum dari kemunculan sekte dalam setiap tradisi agama. Pertama, dari segi ajaran, biasanya berbeda dari doktrin agama yang telah disepakati. Kedua, mereka biasanya memiliki pemimpin-pemimpin karismatik yang menuntut ketaatan mutlak. Ketiga, memiliki kecenderungan untuk merasa lebih benar dari kelompok lain. Keempat, ”terpanggil” untuk menyelamatkan dunia. Keyakinan mereka, bahwa dengan kelompoknya itu, kehidupan manusia akan selamat (Wilson, 1996: 181-182). Meski secara religius anggota sekte adalah kelompok luar, dalam mengikuti kesetiaan terhadap pemimpinnya mereka berupaya mencapai level meticulous conformity dengan nilai dan praktik. Karena sifatnya elastis menurt Wilson perkembangan sekte bersifat variatif (Wilson, 1996: 196-197). Dan untuk Lia Eden walaupun menurut anggapan mereka bukanlah sekte, akan tetapi secara normatif dapat diukur sistem peribadatan mereka mirip sebuah sekte dengan tipologi introvesionis, manipulasionis dan thaumaturgical. Disebut introversionis, karena kelompok mereka berkelompok dan membentuk ghetto sehingga terkesan tertutup dengan lingkungan luar. Sementara disebut manipulasionis karena gerakannya sudah tidak lagi berakar pada tradisi agama tertentu, bahkan boleh dibilang jauh dan bukan lagi tafsir dari suatu tradisi agama. Model thaumaturgical bisa dinisbatkan kepada mereka, sebab kelompok Lia Eden merupakan dari gerakan pemahaman keagamaan bersifat spiritual. Itulah kelompok Lia Eden sebagaimana pemahaman sekte menurut Wilson di atas. Sudah tahu salah mengapa tetap diikuti, anekdot seperti itu seakan-akan menyindir perasaan kita selaku masyarakat gemenschaaft, yaitu masyarakat agraris yang masih menyelesaikan persoalan-persoalan kekinian diselesaikan dengan pola pemikiran rasional dan irrasional, disekitar masyarakat kita lebih percaya petuah mbah Dukun keramat untuk mengusir roh jahat yang ada dalam perut si anak dari pada ke Dokter untuk mengobati penyakit lambung. Ironis tapi itu lah fakta. Aneh tapi nyata. 9 B. IMAM MAHDI MENURUT AJARAN ISLAM Hasil riset doktoral Marzani Anwar (Peneliti Utama Bidang Agama dan Kemasyarakatan pada Balai Litbang Agama Jakarta) terhadap ritual penyucian komunitas Eden, riset kualitatif yang mengangkat judul “Ritual penyucian pada Komunitas Eden”mengatakan dalam proses penyucian, calon peserta menyadari sendiri banyak dosa kepada manusia, alam semesta dan kepada Tuhan. Mereka melakukan pengakuan dosa dituntun Abdul Rahman selaku Imam Mahdi, menyebutkan dosa-dosanya dan berjanji tidak melakukan dosa lagi. Diahadapan majelis penyucian, mereka duduk bersila di atas altar putih diruangan penyucian, yang ditaburi hiasan pernak-pernik melambangkan keindahan dan kebersihan . Selesai peserta mengucap sumpah, Lia Eden memberikan pesan moral yang isinya berkisar pentingnya pertaubatan, kepasrahan dan keikhlasan meniti jalan Tuhan. Prosesi pertaubatan di atas bila kita kembali mengingat bagaimana Umar Ibnu Khatab masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an yang dibacakan oleh adiknya Waraqah, Umar pun langsung tersayat hatinya, dituntun oleh Rosululloh dan dihadapan para sahabat Rosul, Umar pun membaiat dirinya mengucapkan dua kalimah syahadat, kemudian dengan penuh keberanian di Pasar dengan lantang ia meneriakkan untuk membela Rosululloh dan panji-panji Islam. Tidak ada Imam Mahdi, dikarenakan Imam Mahdi yang dalam hadits shoheh adalah Nabi Isa yang melanjutkan risalah Rosul juga tidak mengklaim mengikuti komunitas Eden atau pengikut Salamullah. Kalau Lia Eden menugaskan Abdul Rahman sebagai Nabi Isa, kemudian Ahmadiyah mempunyai keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi. Apa Allah keliru dalam mengutus risalah kenabian Isa pada akhir zaman, sehingga ada beberapa nama Imam mahdi, sebaiknya perlu kita kritisi bersama-sama. Kemudian dalam Islam sahabat Rosul kala itu belum terdidik, berbeda dengan komunitas Eden, ada yang berfrofesi sebagai dosen, wirausaha, PNS dan sebagainya, jelas mereka merupakan masyarakat terdidik yang seharusnya dalam amal ibadah pun mereka sudah tidak meragukan lagi kerasulan Nabi Muhammad SAW bahkan kita selaku muslim tetap meyakini bahwa sholat kita mengikuti perintah Rosul dan sesungguhnya sholatku, hidupku dan matiku semata-mata hanya untuk Allah, karena kita menyakini betul bahwa Allah SWT yang dapat menyelamatkan hidup kita diakhirat kelak. Do'a Iftitah Do'a Iftitah 01 أللَّهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً Alloh Maha Besar dengan segala kebesarannya. Segala puji bagi Alloh. Maha Suci Alloh dipagi dan petang hari (HR. An-Nasa'iy II/125) 10 Do'a Iftitah 02 وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ. Kuhadapkan jiwa ragaku pada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan mengakui kebenaran serta berserah diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang yang musyrik إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Alloh Tuhan semesta alam لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ. tiada sekutu bagiNya karena dengan itu aku diperintah. Dan ketahuilah sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim رواه والبيهقى ( الأذكار ص42 ) (HR. Al-Baihaqy II/8) lihat kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 42 Dengan demikian kita mempunyai keyakinan لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ.kita sebagai muslim berserah diri, pasrah dan tunduk kepada perintah Allah SWT dan kita pun siap untuk ta’at atas perintah yang Allah berikan kepada kita. Tiada sekutu bagi-Nya, tidak sesuatu pun yang dapat menyamainya. • 1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Ketaatan kita selaku muslim tidak hanya kepada Allah SWT saja tetapi mutlak pula secara ihkhlas kita harus meyakini dan mengamalkan untuk ta’at kepada Rosul Allah Muhammad SAW. 59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. 11 BAB V LIA EDEN DALAM PERSFEKTIF TEOLOGI A. PENGEMBARAAN MENCARI KEBENARAN HAKIKI Jika kita ingat kontemplasi yang dilakukan oleh Rosululloh di Gua Hira, adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh Muhammad untuk dapat mencari solusi dari persoalan zaman jahiliyyah yang terkungkung oleh kemusyrikan dan kemaksiatan yang sudah berakar dan sangat sulit untuk disembuhkan keyakinannnya, karena sudah mentradisi secara turun temurun. Demikian pula apa yang dilakukan oleh Ahmad Musaddeq dan Lia Eden, jahiliyyah di abad millenium ini sudah sangat mengkhawatirkan sehingga suku-suku Inca dan Aztex di Amerika pun meramalkan dalam kalender kuno nya bahwa tahun 2012 ini akan kiamat. Kalau zaman Rosul bila suatu kaum musyrik kepada Allah, oleh Allah SWT langsung dimusnahkan agar mereka meyakini bahwa لا إله إلا الله Tiada Tuhan selain Allah, akan tetapi dengan penuh kasih sayang walaupun sudah ditawarkan oleh Malaikat Jibril, dengan penuh kearifan Nabi Muhammad SAW menolak untuk diturunkan adzab kepada ummat nya. Ia menganggap dikarenakan kaum kuffar Quraisy pada waktu itu dikarenakan belum faham Agama Islam. Dan kalau kita feed back perjalanan Nabi Ibrahim, saat mencari Tuhan yang abadi, namun semuanya fatamorgana dan kamuflase belaka, baik itu gunung, bulan maupun matahari, karena timbul tenggelam dan fana. Maka dibalik itu semua ada yang menciptakan dari suat Dzat yang bersifat kekal, Dia lah Allah SWT. Allah SWT adalah suatu Dzat yang wajib kita sembah, suatu Dzat yang wajib kita patuhi dan jauhi segala rintangannya. Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan kepada kita menyembah Allah SWT dan kepada Rosul-Nya. Diantaranya, Q.S. an-Nahl:36. • • • 36. Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[82
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar